JurnalLugas.Com – Minyak mentah berjangka WTI dan Brent merosot pada awal minggu ini. WTI terkoreksi 0,36% ke USD77,9 per barel, sedangkan Brent turun 0,48% ke USD82,3 per barel pada pukul 09.00 WIB.
Penurunan ini merupakan kelanjutan dari penurunan sebelumnya, dipicu komentar pejabat bank sentral AS yang mengindikasikan suku bunga yang lebih tinggi, potensial membatasi permintaan minyak.
Lorie Logan dari Fed Dallas mempertanyakan efektivitas kebijakan moneter dalam mengendalikan inflasi, memberi tekanan pada harga minyak.
Suku bunga yang lebih tinggi cenderung melambatkan aktivitas ekonomi dan melemahkan permintaan minyak.
Persediaan bahan bakar AS yang meningkat menjelang musim panas juga menekan harga.
Di sisi lain, impor minyak mentah China meningkat pada April, menandakan peningkatan permintaan.
Namun, data AS menunjukkan kepercayaan konsumen merosot, memperburuk prospek permintaan.
Israel mengonfirmasi rencananya untuk serangan di Gaza setelah putaran perundingan perdamaian di Mesir tidak membuahkan hasil.
Harga minyak mentah Saudi yang lebih tinggi dan melemahnya margin penyulingan menekan permintaan dari China.
Saudi Aramco telah meningkatkan harga jual minyak mentahnya untuk Asia, mengangkat harga Arab Light ke level premium tertinggi dalam lima bulan terakhir.
Hal ini dapat berdampak buruk pada margin perusahaan penyulingan di China, terutama dengan prediksi melemahnya permintaan solar.






