Harga Batu Bara Terus Merosot di Tengah Konsolidasi Pasar ICE Newcastle Turun 1,11% Daily Time Frame Zona Bullish

coal reservoir of an old steam locomotive

JurnalLugas.Com – Harga batu bara mengalami penurunan signifikan pada perdagangan kemarin, menyusul tren penurunan sepanjang minggu ini.

Pada Jumat (17/5/2024), harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan ini ditutup pada US$ 142,15 per ton, turun 1,11% dibandingkan dengan hari sebelumnya.

Bacaan Lainnya

Selama minggu ini, harga batu bara turun sebesar 1,28% secara point-to-point. Namun, dalam kurun waktu satu bulan terakhir, harga mengalami kenaikan sebesar 0,82%.

Harga batu bara sempat mengalami kenaikan pesat belum lama ini, dengan puncaknya terjadi pada 2 Mei saat harga menyentuh US$ 147,75 per ton, tertinggi sejak Desember tahun lalu.

Baca Juga  Harga Minyak Tembus 100 Dolar, Indonesia Panen Cuan dari Batu Bara, CPO, dan Emas

Setelah mencapai puncak tersebut, harga batu bara mulai terkoreksi, menunjukkan fase konsolidasi setelah kenaikan yang cukup signifikan.

Setelah koreksi minggu ini, bagaimana prospek harga batu bara minggu depan? Apakah ada potensi pemulihan atau justru akan terus menurun?

Secara teknikal pada kerangka waktu harian (daily time frame), batu bara masih berada dalam zona bullish.

Hal ini dibuktikan dengan Relative Strength Index (RSI) yang berada di angka 65,31. RSI di atas 50 mengindikasikan bahwa aset berada dalam tren bullish.

Namun, perlu diperhatikan bahwa indikator Stochastic RSI telah mencapai angka 100, menunjukkan kondisi overbought yang sangat tinggi.

Baca Juga  Mata Uang Kripto PEPE Volatilitas Lampau Ekspetasi Bintang Baru Koin Meme Coinglass Kenaikan Harga PEPE Open Interest

Dengan demikian, ada kemungkinan koreksi harga batu bara belum selesai. Target support terdekat ada di US$ 135 per ton. Jika level ini tertembus, maka US$ 133 per ton bisa menjadi target berikutnya.

Sementara itu, target resistensi terdekat adalah US$ 144 per ton. Jika level ini berhasil ditembus, harga batu bara berpotensi naik menuju US$ 154 per ton.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait