JurnalLugas.Com – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) mengalami penurunan pada perdagangan Selasa, 20 Agustus 2024. Di Bursa Malaysia, harga CPO untuk kontrak pengiriman November tercatat MYR 3.715 per ton, turun 0,16% dibandingkan hari sebelumnya. Meskipun demikian, secara mingguan, harga CPO masih mencatat kenaikan 0,7%. Namun, jika dilihat dalam satu bulan terakhir, harga CPO telah terkoreksi 6,85%.
Ada tiga faktor utama yang menjadi penyebab penurunan harga CPO ini:
Penurunan Permintaan Ekspor
Sentimen negatif pertama berasal dari ekspektasi penurunan permintaan terhadap CPO. Berdasarkan laporan Intertek Testing Services, ekspor produk sawit Malaysia pada periode 1-20 Agustus 2024 turun 16,7% dibandingkan periode yang sama pada bulan sebelumnya. Sementara itu, AmSpec Agri Malaysia melaporkan penurunan ekspor sebesar 18,4% pada periode yang sama. Penurunan permintaan ini memberikan tekanan besar terhadap harga CPO di pasar global.
Koreksi Harga Minyak Nabati Pesaing
Faktor kedua yang turut menekan harga CPO adalah penurunan harga minyak nabati lainnya. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade tercatat turun 0,58% pada perdagangan kemarin. Selain itu, harga minyak biji bunga matahari dan rapeseed juga mengalami koreksi, masing-masing turun 0,03% dan 0,28%. Penurunan harga minyak nabati pesaing ini membuat CPO kehilangan daya saingnya, karena komoditas-komoditas tersebut bisa saling menggantikan.
Penguatan Ringgit Malaysia
Faktor ketiga yang menjadi penghambat laju harga CPO adalah penguatan nilai tukar mata uang ringgit Malaysia. Pada perdagangan kemarin, ringgit menguat 0,06% terhadap dolar Amerika Serikat (AS), mencapai posisi terkuat sejak Februari tahun lalu. Penguatan ringgit ini membuat CPO menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga menurunkan minat beli.
Penurunan harga CPO ini merupakan hasil dari kombinasi ketiga faktor di atas, yang secara bersamaan memberikan tekanan pada pasar CPO global.






