Harga Minyak Dunia Naik Pasca Serangan Israel Terhadap Hizbullah

JurnalLugas.Com – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Israel melancarkan serangan terhadap markas besar Hizbullah di Beirut selatan, Lebanon. Peristiwa ini memicu lonjakan harga minyak dunia, terutama di tengah meningkatnya kekhawatiran terkait keamanan pasokan energi global.

Pada Jumat lalu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik hampir 1%, menetap di atas angka US$68 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent juga mengalami kenaikan dan berakhir mendekati US$72 per barel. Meskipun demikian, secara mingguan, kedua jenis minyak ini tetap menunjukkan tren penurunan di tengah prospek peningkatan pasokan dari negara-negara penghasil minyak utama seperti Arab Saudi dan Libya.

Bacaan Lainnya

Eskalasi Konflik Timur Tengah

Serangan Israel ini terjadi setelah adanya ancaman yang jelas untuk terus membombardir target Hizbullah di Lebanon tanpa batas waktu, yang berpotensi memperpanjang konflik di kawasan tersebut. Langkah ini semakin mempersulit upaya diplomatik untuk mencapai gencatan senjata yang dapat mengurangi risiko eskalasi perang regional yang lebih luas.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis di platform media sosial X, Kedutaan Besar Iran di Beirut menyebutkan bahwa serangan Israel di pinggiran selatan Beirut adalah sebuah “eskalasi berbahaya” yang merubah dinamika konflik di kawasan.

Baca Juga  Harga Minyak Tembus 100 Dolar, Indonesia Panen Cuan dari Batu Bara, CPO, dan Emas

Dampak Terhadap Pasar Minyak

Lonjakan harga minyak ini sebagian dipicu oleh ketidakpastian terkait keamanan di kawasan Timur Tengah, yang merupakan salah satu pusat produksi minyak terbesar di dunia. Meski demikian, sentimen pasar tetap diwarnai oleh laporan bahwa Arab Saudi kemungkinan akan meningkatkan produksi minyaknya dalam waktu dekat. Selain itu, kesepakatan antara faksi-faksi yang bertikai di Libya untuk menunjuk gubernur bank sentral baru juga membuka jalan bagi pemulihan produksi minyak di negara tersebut.

Rebecca Babin, seorang pedagang energi senior di CIBC Private Wealth, menyatakan bahwa pasar minyak mentah berusaha mencari stabilitas di tengah kembalinya pasokan dari Libya, serta antisipasi terhadap potensi keputusan OPEC+ yang mungkin akan berakhir pada bulan Desember.

Meski demikian, minyak mentah masih berada dalam jalur penurunan triwulanan, terutama karena rencana OPEC+ untuk melonggarkan pembatasan pasokan sukarela. Selain itu, prospek ekonomi yang sulit di China, yang merupakan salah satu importir minyak terbesar di dunia, turut membebani pasar. Meskipun pemerintah China telah meluncurkan serangkaian langkah stimulus moneter dan fiskal untuk memperkuat perekonomian, efektivitas dari kebijakan tersebut masih diragukan oleh pasar.

Volatilitas Pasar Minyak

Perubahan harga minyak juga mendorong peningkatan volatilitas di pasar. Premi bearish pada opsi minyak—yang menguntungkan ketika harga turun—telah mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir, mencerminkan sentimen pasar yang lebih hati-hati terhadap kemungkinan lonjakan harga lebih lanjut.

Baca Juga  Pasokan Melimpah, Harga Minyak Dunia Runtuh 3% Imbas Kebijakan OPEC+

Selain itu, faktor cuaca juga turut memperburuk situasi. Badai Tropis Helene yang melanda kawasan selatan Amerika Serikat telah menyebabkan hujan deras dan banjir, menewaskan sedikitnya 21 orang dan membuat lebih dari 4 juta orang kehilangan akses listrik. Menurut laporan dari Biro Keselamatan dan Penegakan Lingkungan, sekitar 24% dari produksi minyak di Teluk Meksiko harus dihentikan akibat badai ini.

Harga Minyak Terkini

Sebagai dampak dari berbagai faktor ini, harga minyak dunia terus menunjukkan fluktuasi. Harga minyak WTI untuk pengiriman November naik sebesar 0,8%, mencapai US$68,18 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman November naik 0,5%, ditutup pada US$71,98 per barel.

Lonjakan harga minyak yang terjadi baru-baru ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap perubahan geopolitik dan faktor-faktor eksternal lainnya, seperti cuaca ekstrem dan keputusan negara-negara penghasil minyak utama. Di tengah ketidakpastian yang terjadi, pasar minyak global akan terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah dan langkah-langkah yang diambil oleh OPEC+ dalam beberapa bulan mendatang.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait