JurnalLugas.Com – PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex (SRIL) pernah menjadi simbol kejayaan industri tekstil Indonesia. Berbasis di Sukoharjo, Jawa Tengah, perusahaan ini sukses menarik perhatian dunia dengan prestasi sebagai pemasok seragam militer untuk lebih dari 50 negara. Namun, nasib perusahaan berubah drastis, dan pada 2024, Sritex resmi dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang. Berikut perjalanan naik turun perusahaan yang kini menghadapi akhir kisahnya.
Awal Kesuksesan Sritex: Dari Pasar Klewer hingga Bisnis Global
Perjalanan Sritex bermula di Pasar Klewer, Solo, saat H.M. Lukminto mendirikan usaha tersebut pada tahun 1966. Dalam waktu singkat, bisnisnya berkembang, dan dua tahun kemudian, Sritex membuka pabrik cetak kain pertama yang memproduksi kain putih dan berwarna.
Tonggak penting terjadi pada 1992 ketika Sritex menjadi perusahaan tekstil terintegrasi. Dengan empat lini produksi – pemintalan, penenunan, sentuhan akhir, dan pembuatan busana – perusahaan mengoperasikan rantai produksi lengkap dari hulu ke hilir. Operasional ini bahkan diresmikan oleh Presiden Soeharto, menandai fase penting dalam sejarah perusahaan.
Pada 1994, Sritex memperluas bisnisnya dengan memasok seragam militer untuk NATO dan tentara Jerman. Di Indonesia, TNI (dahulu ABRI) juga mempercayakan pembuatan seragam mereka kepada Sritex. Produk berkualitas tinggi, seperti seragam tahan air, api, peluru, hingga senjata kimia, menjadi keunggulan Sritex dan menarik perhatian negara-negara lain, termasuk di Timur Tengah dan Asia.
Ekspansi dan Puncak Kejayaan
Krisis ekonomi 1998 sempat mengguncang perusahaan, namun Sritex berhasil bangkit dan memperbesar skala bisnis. Berkat bahan baku lokal dan tenaga kerja dalam negeri, produk tekstil Sritex – mulai dari benang, kain, hingga pakaian fesyen – diekspor ke 40 negara. Pada 2013, Sritex resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kinerja operasional yang gemilang.
Dalam lima tahun sejak IPO, pendapatan Sritex meningkat dari Rp4,7 triliun pada 2013 menjadi Rp15 triliun pada 2018. Namun, di balik peningkatan pendapatan, utang perusahaan juga melonjak. Pada 2018, total liabilitas Sritex mencapai Rp12,3 triliun, empat kali lipat dibandingkan posisi pada 2013 sebesar Rp3 triliun.
Krisis dan Awal Kehancuran
Kinerja keuangan Sritex mulai terguncang pada 2021. Pandemi Covid-19 berdampak signifikan, dengan pendapatan perusahaan turun 32% dari Rp17,8 triliun pada 2020 menjadi Rp12,1 triliun pada 2021. Dampak buruk terus berlanjut hingga 2023, dengan pendapatan anjlok ke Rp5 triliun – hanya sekitar 30% dari capaian terbaiknya pada 2020.
Di sisi lain, beban utang semakin membengkak. Pada 2021, total liabilitas Sritex mencapai Rp23,3 triliun, dan pada pertengahan 2024, utang berbunga perusahaan mencapai Rp14,5 triliun. Bahkan, ekuitas perusahaan tercatat minus Rp16 triliun, menandakan bahwa Sritex berada dalam kondisi keuangan yang sangat buruk.
Tekanan Eksternal dan Tantangan Pasar
Direktur Keuangan Sritex, Welly Salam, mengungkapkan bahwa pandemi bukan satu-satunya faktor yang menekan perusahaan. Penurunan permintaan tekstil global akibat ketidakpastian geopolitik dan inflasi juga mempengaruhi bisnis Sritex. “Masyarakat global lebih memprioritaskan kebutuhan pangan dan energi dibandingkan tekstil,” ujar Welly.
Selain itu, pasar domestik semakin tertekan dengan membanjirnya produk impor, terutama dari China. Welly menambahkan bahwa masuknya produk ilegal menyebabkan oversupply di pasar, sehingga produsen lokal kesulitan bersaing dari sisi harga.
Akhir Perjalanan: Status Pailit dan Beban Utang
Dengan kondisi arus kas yang semakin memburuk, Sritex tak mampu mengatasi beban utangnya. Gugatan terbaru dari PT Indo Bharat Rayon, terkait wanprestasi dalam perjanjian damai (homologasi) yang disepakati pada 2022, memaksa Pengadilan Niaga Semarang untuk menyatakan Sritex pailit.
Dalam upaya terakhir, perusahaan berusaha menarik utang tambahan dengan menjaminkan lebih dari 50% asetnya. Namun, prospek bisnis yang suram dan beban liabilitas yang terus meningkat membuat langkah ini tidak berhasil menyelamatkan perusahaan. Akhirnya, pada 2024, Sritex harus menerima kenyataan pahit bahwa era kejayaannya telah berakhir.
Kisah Sritex menjadi pelajaran penting bagi industri tekstil dan bisnis Indonesia. Keberhasilan membangun merek global dan inovasi produk tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan perusahaan tanpa manajemen risiko utang yang baik. Di sisi lain, perubahan kondisi pasar dan ketatnya persaingan dengan produk impor harus dihadapi dengan adaptasi cepat dan strategi bisnis yang tepat.
Kini, Sritex tinggal sejarah, namun perjalanan perusahaan ini memberikan banyak wawasan bagi pelaku bisnis di sektor tekstil tentang pentingnya keseimbangan antara ekspansi, inovasi, dan pengelolaan keuangan yang bijak.






