JurnalLugas.Com – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan berencana menunda pernikahan putranya, Avner Netanyahu, di tengah kekhawatiran ancaman serangan drone. Penundaan tersebut dipertimbangkan di tengah situasi perang yang berkecamuk di Gaza dan Lebanon, sebagaimana diberitakan oleh media lokal pada Rabu, 30 Oktober 2024.
Awalnya, pernikahan Avner dijadwalkan berlangsung pada 26 November di kawasan Sharon, Tel Aviv bagian barat. Namun, situasi keamanan yang genting membuat Netanyahu khawatir acara tersebut dapat menjadi target serangan, sehingga ia mempertimbangkan untuk menunda pesta demi melindungi para tamu undangan, menurut laporan dari KAN, lembaga penyiaran publik Israel.
Kantor Netanyahu hingga kini belum memberikan pernyataan resmi terkait rencana penundaan tersebut.
Ancaman Serangan Drone dan Konflik yang Memanas
Pada 19 Oktober lalu, insiden drone sempat menghebohkan publik setelah sebuah drone milik Hizbullah dilaporkan mengenai jendela kamar Netanyahu di Caesarea, wilayah Israel utara. Insiden ini menambah kekhawatiran Netanyahu terkait potensi risiko serangan drone yang dapat mengancam keselamatan keluarganya dan para tamu dalam acara pernikahan mendatang.
Di sisi lain, eskalasi konflik Israel dengan Hizbullah di perbatasan Lebanon terus meningkat. Israel melancarkan serangan udara intensif ke wilayah Lebanon sejak beberapa bulan lalu dengan dalih menargetkan infrastruktur Hizbullah. Konflik ini menjadi bagian dari ketegangan lintas perbatasan yang telah berlangsung selama setahun, menyusul serangan masif Israel ke Jalur Gaza.
Dampak Konflik: Korban Jiwa dan Kerugian Kemanusiaan
Menurut otoritas kesehatan Lebanon, serangan Israel sejak Oktober tahun lalu telah menewaskan lebih dari 2.700 orang dan melukai hampir 12.500 lainnya. Eskalasi terbaru terjadi pada 1 Oktober 2024, ketika Israel memperluas serangannya ke wilayah selatan Lebanon.
Situasi yang semakin memanas ini membuat rencana pernikahan keluarga Netanyahu terancam, mengingat risiko keamanan yang tidak dapat diabaikan. Dalam kondisi seperti ini, keputusan untuk menunda acara menjadi langkah yang dianggap bijak guna menghindari potensi insiden berbahaya.
Dengan ketegangan yang masih tinggi, situasi keamanan di Israel dan Lebanon diperkirakan akan terus memengaruhi agenda politik dan sosial dalam beberapa bulan mendatang.






