JurnalLugas.Com – Pada awal perdagangan Senin, 10 Maret 2025, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan tipis. Rupiah terdepresiasi sebesar 5 poin atau 0,03 persen, berada di level Rp16.300 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.295 per dolar AS.
Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
Pelemahan mata uang Garuda ini dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, di antaranya:
- Sentimen Global
Dolar AS masih menguat terhadap mayoritas mata uang dunia akibat kebijakan moneter ketat yang diterapkan oleh Federal Reserve (The Fed). Investor juga masih mencermati arah kebijakan suku bunga AS, yang berpotensi mempengaruhi arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia. - Data Ekonomi Domestik
Pelaku pasar tengah menunggu rilis data ekonomi dalam negeri, seperti inflasi dan neraca perdagangan, yang dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai prospek ekonomi Indonesia. Jika data yang dirilis kurang menggembirakan, tekanan terhadap rupiah bisa semakin besar. - Harga Komoditas Dunia
Indonesia sebagai negara berbasis ekspor sangat bergantung pada harga komoditas global. Fluktuasi harga minyak dan bahan baku lainnya turut mempengaruhi nilai tukar rupiah.
Prospek Rupiah
Para analis memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp16.280 hingga Rp16.340 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini. Jika tekanan eksternal masih tinggi dan permintaan dolar AS meningkat, rupiah berpotensi melemah lebih lanjut. Namun, intervensi Bank Indonesia melalui kebijakan moneter dan operasi pasar bisa menjadi faktor penyeimbang.
Untuk tetap menjaga stabilitas ekonomi, penting bagi pemerintah dan pelaku pasar untuk terus memantau pergerakan nilai tukar serta kebijakan global yang dapat berdampak pada perekonomian nasional.
Baca berita ekonomi lainnya di JurnalLugas.Com.





