JurnalLugas.Com – Kilauan emas telah memikat manusia sejak ribuan tahun lalu. Tidak hanya dipuja karena keindahannya, emas menjelma menjadi simbol kekuasaan, spiritualitas, hingga kekuatan ekonomi lintas zaman dan budaya. Dari makam para firaun hingga lemari brankas bank sentral dunia, perjalanan emas mencerminkan evolusi peradaban manusia itu sendiri.
Awal Mula Ketertarikan Manusia pada Emas
Para arkeolog menemukan bukti penggunaan emas pertama kali sekitar 4.600 tahun sebelum Masehi di wilayah Varna, Bulgaria. Artefak emas ditemukan dalam penguburan elit, menandakan bahwa bahkan pada masa prasejarah, emas sudah memiliki makna sosial dan spiritual yang kuat.
Namun, Mesir Kuno-lah yang pertama kali mengangkat emas ke level yang lebih tinggi. Bangsa Mesir memandang emas sebagai “daging para dewa”, bahan yang suci dan tak lekang oleh waktu. Firaun Tutankhamun, misalnya, dimakamkan dengan topeng emas murni yang kini menjadi salah satu simbol paling ikonik dari kekayaan dan keabadian dunia kuno.
“Bagi bangsa Mesir, emas bukan hanya harta benda, tapi jembatan antara dunia manusia dan dunia ilahi,” ujar Prof. Mahmoud El-Gamal, sejarawan dari Kairo dalam jurnal Ancient Civilizations Review.
Emas Menjadi Alat Tukar: Awal Sistem Moneter
Transformasi emas dari benda simbolik menjadi alat tukar terjadi di Asia Kecil, tepatnya di Kerajaan Lydia (sekarang Turki), pada abad ke-7 SM. Lydia dianggap sebagai kerajaan pertama yang mencetak koin emas untuk keperluan perdagangan. Koin-koin tersebut disambut luas oleh para pedagang karena emas dinilai langka, tidak mudah rusak, dan mudah dibagi.
Sistem ini kemudian diadopsi oleh Kekaisaran Persia, Yunani, hingga Romawi. Bahkan ketika Kekaisaran Romawi runtuh, koin emas tetap menjadi standar dalam transaksi lintas wilayah dan era.
Abad Keemasan Gold Standard
Lonjakan besar dalam peran emas dalam sistem keuangan terjadi pada abad ke-19 ketika banyak negara menerapkan gold standard, yaitu sistem di mana nilai mata uang ditentukan berdasarkan jumlah emas yang dimiliki suatu negara.
Inggris menjadi pionir dengan menetapkan pound sterling terhadap nilai emas pada tahun 1821. Langkah ini diikuti oleh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa lainnya. Sistem ini bertahan hingga Perang Dunia I ketika kebutuhan pembiayaan perang membuat banyak negara meninggalkan patokan emas demi mencetak uang kertas.
Namun meski era gold standard resmi berakhir pada 1971 ketika Presiden AS Richard Nixon mencabut keterikatan dolar terhadap emas, logam mulia ini tetap menjadi cadangan devisa dan alat lindung nilai yang dipercaya hingga hari ini.
Simbol Budaya dan Tradisi Leluhur
Selain fungsi ekonominya, emas juga memiliki tempat penting dalam kebudayaan. Di Indonesia, emas telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, mulai dari mahar pernikahan, simbol status sosial, hingga warisan turun-temurun.
Di India, emas bahkan menyatu dengan identitas budaya. Setiap perayaan besar seperti Diwali atau pernikahan, emas selalu menjadi hadiah utama. Tak heran jika India menjadi salah satu konsumen emas terbesar di dunia setiap tahunnya.
Emas di Era Digital: Antara Teknologi dan Investasi
Memasuki abad ke-21, cara manusia berinteraksi dengan emas terus berkembang. Kini, emas tak hanya hadir dalam bentuk fisik, tetapi juga digital. Melalui platform seperti Pegadaian Digital, Tokopedia Emas, hingga bank digital, masyarakat dapat membeli dan menabung emas mulai dari nominal kecil, bahkan di bawah Rp10.000.
“Emas digital menjadi solusi generasi muda untuk berinvestasi tanpa harus menyimpan emas fisik di rumah,” ungkap Kiki Setiawan, analis pasar dari IndoGold.
Di sisi lain, emas tetap menjadi andalan dalam mengamankan kekayaan saat krisis. Saat pandemi COVID-19, harga emas dunia sempat menyentuh rekor tertinggi karena investor global mencari aset aman (safe haven).
Stabil di Tengah Ketidakpastian
Kekuatan emas justru muncul saat krisis melanda. Perang, inflasi, suku bunga tinggi, hingga ketidakpastian geopolitik membuat banyak investor kembali melirik emas sebagai aset pelindung nilai. Tak heran jika bank sentral dunia, termasuk Bank Indonesia, tetap menyimpan emas sebagai bagian dari cadangan devisa.
“Selama masih ada ketidakpastian ekonomi global, permintaan terhadap emas akan tetap tinggi,” kata Rizal Affandi Lukman, ekonom senior dari LPEM UI.
Emas, Cermin Peradaban
Dari masa ke masa, emas tak hanya menjadi benda mati. Ia adalah cermin perjalanan manusia, dari zaman batu ke zaman digital, dari kepercayaan spiritual hingga teori ekonomi modern. Di balik kilaunya, tersimpan kisah panjang tentang nilai, kekuasaan, dan harapan yang tak lekang oleh waktu.
📌 Ikuti artikel sejarah, ekonomi, dan tren investasi lainnya hanya di JurnalLugas.Com






