JurnalLugas.Com – Pemerintah Iran secara tegas melarang Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Mariano Grossi, masuk ke wilayahnya. Selain itu, Iran juga menolak pemasangan kamera pengawas IAEA di fasilitas nuklirnya.
Pernyataan keras tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Sabtu, 28 Juni 2025.
“Kami tidak akan mengizinkan IAEA memasang kamera di fasilitas nuklir kami, dan Grossi dilarang memasuki Iran,” tegas Araghchi.
Langkah ini mencerminkan meningkatnya ketegangan antara Teheran dan badan pengawas nuklir PBB, menyusul tuntutan transparansi dan pemantauan ketat pasca serangan militer Israel dan Amerika Serikat.
Ketegangan tersebut memuncak setelah parlemen Iran menyetujui undang-undang pada Rabu (25/6) yang secara resmi menghentikan kerja sama dengan IAEA.
Latar Belakang: Konflik Iran-Israel
Sikap keras Iran terhadap IAEA tak lepas dari konflik 12 hari yang pecah sejak 13 Juni 2025. Israel melancarkan serangan udara ke berbagai fasilitas militer, nuklir, dan kawasan sipil di Iran. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan sedikitnya 606 warga tewas dan 5.332 lainnya luka-luka.
Menanggapi serangan tersebut, Teheran membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel. Data dari Universitas Ibrani Yerusalem mencatat 29 korban jiwa dan lebih dari 3.400 orang terluka.
Konflik mereda setelah diberlakukannya gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat, dan mulai berlaku efektif pada 24 Juni 2025.
Situasi geopolitik di Timur Tengah masih memanas, sementara sikap Iran terhadap pengawasan nuklir internasional kini jadi sorotan dunia.
Baca berita aktual lainnya hanya di JurnalLugas.Com






