JurnalLugas.Com – Petani cabai di Kabupaten Batu Bara, Kecamatan Limapuluh Pesisir, Sumatera Utara, tengah menghadapi kesulitan besar akibat keringnya saluran irigasi yang biasanya mengaliri lahan pertanian mereka. Sejak pertengahan Juni 2025, air irigasi di Desa Bulan-bulan Titi Merah tak lagi mengalir, membuat petani terancam gagal panen.
“Pak Bupati, kami petani cabai di Batu Bara belum bisa bahagia. Ladang kami kering. Mau menyiram, pakai air dari mana?” keluh Jum, seorang petani paruh baya saat ditemui, Minggu (29/6/2025).
Ia mengaku baru saja memulai masa tanam, namun minimnya air membuatnya kesulitan. Opsi untuk memompa air dari sumber pembuangan terdekat tidaklah mudah karena keterbatasan biaya.
“Bahagia itu kalau punya modal dan bisa atur semuanya. Tapi baru jadi petani saja sudah merana,” sambungnya.
Permasalahan ini diperparah oleh kurangnya respons dari instansi terkait. Para petani mengaku telah menyampaikan keluhan kepada Dinas Pertanian, namun hingga kini belum ada solusi konkret.
Sementara itu, lahan yang berada dekat saluran irigasi utama masih mendapat pasokan air cukup. Namun, area yang berada di ujung saluran, seperti di Desa Bulan-bulan, justru terabaikan.
“Pak Bupati, Pak Pemerintah, tolong jangan hanya bicara soal kemarau atau debit air sungai yang rendah. Mana usahanya untuk bantu kami petani? Coba bayangkan jika kami gagal panen, apa dampaknya untuk Batu Bara?” tegas Jum penuh harap.
Petani berharap pemerintah daerah bersinergi dan hadir secara nyata memberikan solusi agar sektor pertanian tetap hidup, dan petani bisa benar-benar merasakan kebahagiaan, bukan sekadar janji.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com






