JurnalLugas.Com – Harga minyak mentah dunia kembali tertekan selama dua hari berturut-turut, dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap rapat OPEC+ yang dijadwalkan berlangsung Sabtu (5/7/2025). Agenda utama yang menjadi sorotan ialah kemungkinan peningkatan produksi signifikan, yang berpotensi membanjiri pasokan global.
Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus 2025 tercatat turun 0,7% ke level US\$66,50 per barel, sedangkan minyak jenis Brent untuk pengiriman September melemah ke US\$68,30 per barel. Penurunan ini memperpanjang tren negatif dari perdagangan sebelumnya.
Ekspektasi Kenaikan Produksi OPEC+
Beberapa delegasi OPEC+ mengungkapkan bahwa organisasi produsen minyak tersebut tengah mempertimbangkan kenaikan produksi lebih dari 411.000 barel per hari pada Agustus mendatang. Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi pemulihan output setelah pemangkasan besar selama pandemi.
“Pasar saat ini mulai digerakkan oleh faktor-faktor fundamental, bukan lagi ketegangan geopolitik,” ungkap Susan Bell, Wakil Presiden Senior Riset Hilir di Rystad Energy yang berbasis di Calgary. Ia menambahkan bahwa sebagian besar “premi risiko” sudah keluar dari pasar, meninggalkan harga bergantung sepenuhnya pada keseimbangan pasokan dan permintaan.
Tekanan Tambahan dari Kebijakan Trump
Di luar dinamika OPEC+, pasar energi global juga diterpa tekanan dari sisi geopolitik dan perdagangan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana menerapkan tarif sepihak terhadap mitra dagang utama AS, dengan tenggat surat pemberitahuan jatuh pada 9 Juli dan pemberlakuan tarif dimulai Agustus.
Langkah ini memperburuk sentimen risiko global, memicu pelemahan indeks saham di kawasan Asia hingga Eropa. Ketidakpastian yang ditimbulkan berdampak pada daya beli energi dan investasi pasar minyak.
Ketegangan Timur Tengah dan Cuaca Ekstrem
Walaupun tensi konflik antara Israel dan Iran mulai menurun, kekhawatiran investor belum sepenuhnya reda. Rencana AS untuk kembali membuka pembicaraan nuklir dengan Teheran menambah dinamika politik yang belum pasti. Utusan Timur Tengah AS, Steven Witkoff, dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Oslo pekan depan.
Di sisi lain, cuaca ekstrem juga ikut memengaruhi pasar. Kebakaran hutan di Fort McMurray, Kanada—dekat area produksi minyak pasir raksasa—mengancam pasokan. Data terbaru menunjukkan bahwa produksi minyak Alberta turun ke titik terendah dalam dua tahun terakhir pada Mei.
Ditambah dengan larangan impor minyak Venezuela dan penurunan produksi dari Meksiko, tekanan pasokan untuk minyak mentah jenis berat semakin terasa. Namun, efek kenaikan harga jenis ini belum cukup kuat untuk mengimbangi pelemahan di pasar global secara keseluruhan.
Dengan begitu banyak faktor yang berperan dari rapat OPEC+, kebijakan Trump, pembicaraan nuklir Iran, hingga bencana alam harga minyak dunia berada dalam pusaran ketidakpastian. Para pelaku pasar kini menantikan hasil konkrit dari pertemuan OPEC+ dan langkah lanjutan dari Amerika Serikat dalam waktu dekat.
Informasi lainnya dapat dibaca secara lengkap di JurnalLugas.Com.






