Saham Kimia Farma Anjlok 8% Usai BEI Cabut Suspensi Rugi Rp2,26 Triliun Terungkap

JurnalLugas.Com — Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi membuka kembali perdagangan saham PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) setelah sebelumnya dikenakan suspensi. Namun, langkah ini tidak serta-merta membawa angin segar bagi emiten farmasi milik negara tersebut. Justru sebaliknya, harga saham KAEF langsung terjun bebas lebih dari 8 persen dalam waktu singkat.

Kepala Divisi Peraturan dan Layanan Perusahaan Tercatat BEI, Teuku Fahmi Ariandar, menyampaikan bahwa suspensi atas saham KAEF dicabut setelah perseroan menyelesaikan kewajibannya, salah satunya yakni publikasi laporan keuangan.

Bacaan Lainnya

“Bursa mencabut suspensi Efek KAEF di pasar reguler dan tunai terhitung sejak pra-pembukaan perdagangan efek pada hari Jumat, 11 Juli 2025,” ujar Teuku Fahmi dalam keterangan tertulis, Jumat (11/7/2025).

Berdasarkan pantauan perdagangan pada pukul 10.35 WIB, saham KAEF langsung anjlok sebesar Rp55 atau 8,15 persen ke level Rp625 per saham. Penurunan ini turut memangkas kapitalisasi pasar Kimia Farma menjadi Rp3,48 triliun.

Rugi Bersih Masih Membayangi

BEI menjelaskan bahwa pencabutan suspensi dilakukan karena KAEF telah memenuhi kewajiban penerbitan laporan keuangan tahunan 2024. Dalam laporan tersebut, terungkap bahwa Kimia Farma masih membukukan kerugian besar, yakni Rp2,26 triliun sepanjang 2024.

Tak hanya itu, Kimia Farma juga melakukan penerbitan ulang laporan keuangan tahun 2023. Koreksi dilakukan atas temuan informasi material yang dinilai terjadi salah saji, terutama pada anak usaha PT Kimia Farma Apotek (KFA).

Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam, menyatakan bahwa meskipun masih mencatat rugi bersih, tren keuangan perusahaan menunjukkan perbaikan. Ia optimistis terhadap prospek kinerja 2025 seiring berbagai upaya transformasi yang telah dilakukan.

“Transformasi bisnis yang kami lakukan sejak tahun lalu telah berdampak positif terhadap pertumbuhan penjualan, penurunan COGS (beban pokok penjualan), dan efisiensi beban usaha,” ujar Djagad dalam pernyataan resminya, Senin (7/7/2025).

Penjualan Stabil, Beban Masih Berat

Dari sisi pendapatan, Kimia Farma berhasil mencatatkan penjualan sebesar Rp9,94 triliun sepanjang tahun 2024. Angka ini hanya sedikit meningkat dibandingkan 2023 yang berada di level Rp9,87 triliun. Penjualan didominasi oleh produk obat-obatan dan jasa pihak ketiga sebesar Rp6,89 triliun.

Segmen obat ethical (resep) tercatat menyumbang Rp2,9 triliun, sedangkan obat over-the-counter (OTC) menyumbang Rp1,36 triliun. Adapun pendapatan dari jasa klinik, laboratorium, dan lainnya mencapai Rp1,48 triliun. Sementara itu, segmen obat generik menghasilkan Rp1,15 triliun.

Untuk penjualan dari produksi sendiri, Kimia Farma membukukan pendapatan Rp1,46 triliun dari obat generik, Rp890 miliar dari obat ethical, lisensi, dan narkotika, serta Rp382 miliar dari produk OTC dan kosmetik.

Meskipun pendapatan terjaga, beban penjualan KAEF sedikit menurun dari Rp7,06 triliun di 2023 menjadi Rp6,99 triliun di 2024. Laba kotor pun ikut terdongkrak 5 persen menjadi Rp2,95 triliun dengan margin 29,6 persen.

Namun demikian, beban usaha masih menjadi tekanan berat. Total beban usaha KAEF mencapai Rp3,79 triliun, meskipun lebih rendah dibandingkan Rp4,49 triliun pada tahun sebelumnya.

Beban SDM dan Promosi Mendominasi

Besarnya beban usaha KAEF terutama berasal dari tiga komponen utama. Pertama, pos gaji dan kesejahteraan karyawan dari bagian penjualan yang mencapai Rp1,08 triliun. Kedua, beban umum dan administrasi sebesar Rp677 miliar. Ketiga, biaya promosi dan pemasaran sebesar Rp520 miliar. Ketiga pos ini menyumbang hampir 60 persen dari total beban usaha.

Kondisi tersebut menyebabkan Kimia Farma masih membukukan rugi usaha sebesar Rp810 miliar. Situasi diperparah dengan beban keuangan mencapai Rp425 miliar, yang membuat rugi sebelum pajak menembus Rp1,23 triliun.

Meski secara akuntansi mengalami kerugian, kondisi arus kas operasional justru mengalami perbaikan. Pada 2024, arus kas dari aktivitas operasional tercatat positif Rp153 miliar. Sebagai pembanding, pada 2023 arus kas operasional KAEF justru negatif sebesar Rp246 miliar.

Optimisme di Tengah Tantangan

Djagad menyebutkan bahwa perbaikan dalam struktur biaya, efisiensi operasional, serta optimalisasi anak usaha menjadi pilar utama dalam menyongsong pemulihan kinerja.

“Kami percaya bahwa dengan penguatan manajemen, pengendalian beban, dan ekspansi pasar, Kimia Farma akan mampu mencatatkan pertumbuhan positif di tahun 2025,” ujarnya.

Meski saat ini KAEF masih menghadapi berbagai tantangan, langkah koreksi laporan keuangan serta pencabutan suspensi saham diharapkan bisa memulihkan kepercayaan investor secara bertahap.

Namun, pasar tampaknya masih merespons dengan hati-hati. Penurunan tajam saham KAEF pada hari pertama pembukaan kembali menjadi sinyal bahwa pelaku pasar masih menantikan hasil konkret dari restrukturisasi dan transformasi bisnis perseroan.

Sebagai BUMN yang bergerak di sektor strategis, Kimia Farma memiliki tanggung jawab besar, baik dari sisi pelayanan kesehatan masyarakat maupun tata kelola perusahaan yang transparan dan akuntabel. Ke depan, keberhasilan perseroan dalam memperbaiki struktur finansial akan sangat menentukan keberlanjutan bisnisnya di tengah tekanan kompetisi dan tuntutan reformasi korporasi.

Selengkapnya berita dan update terkini kunjungi JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Goldman Sachs Prediksi S&P 500 Berpotensi Melonjak Hingga Akhir 2024

Pos terkait