Pelabuhan Eilat Israel Tutup Total Mulai Minggu Pendapatan Anjlok Akibat Serangan Houthi

JurnalLugas.Com – Pelabuhan Eilat, satu-satunya pelabuhan Israel di Laut Merah, akan menghentikan seluruh operasinya mulai Minggu pekan ini. Keputusan itu diambil setelah pelabuhan mengalami krisis keuangan parah akibat penurunan drastis aktivitas pengiriman dan gagal membayar utang pajak kepada pemerintah kota.

Pemerintah kota Eilat telah menyita rekening bank pelabuhan senilai sekitar 10 juta shekel atau sekitar Rp48 miliar. Penyitaan itu dilakukan setelah pihak pelabuhan menunggak pajak dan tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran.

Bacaan Lainnya

Situasi ini dipicu oleh terganggunya jalur perdagangan di Laut Merah akibat rangkaian serangan kelompok Houthi yang menargetkan kapal-kapal yang dianggap memiliki hubungan dengan Israel. Serangan tersebut berdampak besar pada pengalihan rute pelayaran menuju pelabuhan lain di wilayah Laut Tengah seperti Ashdod dan Haifa.

Lembaga otoritas pelabuhan menyatakan bahwa krisis ini merupakan akumulasi dari konflik berkepanjangan yang menyebabkan penurunan drastis pendapatan. “Seluruh aktivitas pelabuhan akan dihentikan total mulai hari Minggu karena ketidakmampuan operasional,” demikian pernyataan resmi otoritas pelabuhan.

Pendapatan Anjlok, Aktivitas Menurun Tajam

Data keuangan menunjukkan pendapatan pelabuhan Eilat sepanjang 2024 hanya mencapai 42 juta shekel (sekitar Rp203 miliar), jauh menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 212 juta shekel (sekitar Rp1 triliun). Penurunan tersebut mencapai hampir 80 persen, sebagian besar akibat pengalihan logistik dan minimnya kapal yang bersandar.

Baca Juga  Presiden Lebanon Joseph Aoun Perintahkan Militer Balas Serangan Israel di Wilayah Selatan

Pada 2023, pelabuhan Eilat sempat menjadi pusat bongkar muat mobil impor dengan total sekitar 150.000 unit kendaraan dibongkar dari 134 kapal. Namun pada 2024, tidak ada satu pun kendaraan dibongkar dan jumlah kapal merapat hanya 64. Hingga Mei 2025, hanya enam kapal yang tercatat singgah di pelabuhan ini.

Kritik terhadap Pemerintah dan Dampak Sosial

Seorang anggota parlemen menyebut penutupan pelabuhan ini sebagai “aib nasional”, menyoroti lemahnya respons pemerintah terhadap ancaman yang sudah berulang kali diperingatkan. Ia juga menilai pemerintah telah gagal melindungi wilayah selatan Israel dari dampak serangan maritim Houthi.

“Setiap hari keterlambatan dalam bertindak berarti semakin besar kerugian ekonomi dan ancaman terhadap kedaulatan,” ungkapnya dalam pernyataan kepada parlemen.

Krisis ini juga berdampak langsung pada tenaga kerja. Dari 113 karyawan yang sebelumnya aktif bekerja di pelabuhan, kini hanya tersisa 47 orang. Banyak dari mereka tidak lagi menerima gaji dan tidak memperoleh akses terhadap tunjangan pengangguran.

Ketua serikat pekerja mengungkapkan bahwa suasana kerja saat ini penuh ketidakpastian. “Kami kehilangan hak dasar. Gaji tidak dibayarkan, dan kami tidak tahu bagaimana masa depan pelabuhan ini,” ujarnya.

Dukungan Pemerintah Dinilai Tak Cukup

Pada bulan lalu, pemerintah sempat memberikan hibah sebesar 15 juta shekel (sekitar Rp72 miliar) sebagai bentuk bantuan darurat untuk pelabuhan Eilat. Bahkan, pelabuhan ini sempat dinyatakan sebagai “aset nasional strategis”. Namun, pihak pengelola menilai jumlah tersebut tidak cukup untuk menjaga operasional dalam jangka panjang.

Salah satu pejabat pelabuhan mengungkapkan bahwa dukungan pemerintah sangat minim dibandingkan beban finansial yang harus ditanggung. “Kami seperti dilempar ke tengah kawanan anjing. Ini bukan hanya kegagalan kebijakan, tapi simbol kemenangan musuh atas ekonomi kita,” ujarnya.

Baca Juga  Israel Serang Markas IRGC Komandan Antariksa Iran Amir Ali Hajizadeh dan 20 Jenderal Gugur

Konflik Gaza dan Aksi Houthi

Serangan kelompok Houthi yang semakin intens sejak meletusnya konflik di Gaza menjadi pemicu utama krisis ini. Kelompok tersebut menyatakan aksinya sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina dan protes atas agresi militer di wilayah Gaza.

Data terakhir menunjukkan bahwa korban jiwa akibat serangan di Gaza telah mencapai sekitar 58.000 orang, sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak. Lebih dari 140.000 lainnya mengalami luka-luka, dan ribuan anak-anak dilaporkan hilang.

Situasi geopolitik ini tidak hanya memperburuk kondisi keamanan kawasan, tapi juga memberikan pukulan serius terhadap sektor logistik dan ekonomi Israel, terutama yang bergantung pada akses pelayaran Laut Merah seperti pelabuhan Eilat.

Dengan penutupan pelabuhan ini, Israel kehilangan salah satu jalur perdagangan penting di selatan. Para analis memperkirakan bahwa pemulihan aktivitas di Eilat akan memerlukan waktu panjang, terutama bila ketegangan regional tidak mereda dan jalur pengiriman tetap dianggap tidak aman.

Selengkapnya di JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait