JurnalLugas.Com – Benjamin Netanyahu, kembali memicu kemarahan internasional setelah menyatakan siap menuntaskan serangan terbaru ke Gaza “dalam waktu cepat”. Pernyataan itu muncul pada Minggu (10/8/2025), di tengah desakan Dewan Keamanan PBB agar penderitaan warga Palestina segera dihentikan.
Langkah Netanyahu ini datang hanya dua hari setelah kabinet keamanannya mengesahkan rencana yang menuai kritik keras, yakni mengambil alih kendali penuh Kota Gaza. Menurutnya, operasi ini bertujuan menghantam dua benteng terakhir Hamas, dengan alasan membebaskan sandera dan mengakhiri perlawanan bersenjata.
“Tidak ada pilihan lain selain menyelesaikan misi ini,” ucap Netanyahu, menegaskan bahwa Hamas menolak menyerah kecuali terbentuk negara Palestina merdeka.
Zona Aman yang Dipertanyakan
Netanyahu mengklaim bahwa serangan kali ini akan disertai pembentukan zona aman bagi warga sipil untuk mengungsi. Ia menuturkan, “Kami ingin memindahkan penduduk Kota Gaza ke wilayah yang aman terlebih dahulu.”
Namun, warga Palestina menyebut zona aman hanyalah ilusi. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, lokasi tersebut tetap menjadi sasaran tembakan pasukan Israel. Kritik juga datang dari internal militer Israel. Panglima pasukan mengingatkan bahwa pendudukan penuh Gaza berisiko memicu perang gerilya panjang dan memperbesar ancaman terhadap nyawa para sandera.
Meski demikian, Netanyahu menegaskan tujuan Israel bukan menduduki Gaza secara permanen. “Kami hanya menginginkan sabuk keamanan di perbatasan, bukan tinggal di Gaza,” katanya.
Krisis Kemanusiaan yang Memburuk
Di New York, perwakilan Eropa di PBB menyampaikan kecaman keras. Dalam pernyataan bersama, Denmark, Prancis, Yunani, Slovenia, dan Inggris menilai rencana Israel akan memperparah penderitaan rakyat Gaza yang kini terancam kelaparan.
“Memperluas operasi militer hanya akan menambah korban sipil dan penderitaan yang tidak perlu,” tegas mereka. Para diplomat itu juga menyebut situasi saat ini sebagai krisis buatan manusia, sehingga gencatan senjata dan peningkatan bantuan harus segera dilakukan.
Laporan badan bantuan internasional menunjukkan, malnutrisi meluas di Gaza akibat terbatasnya pasokan makanan dan obat-obatan. Israel membantah tuduhan menghalangi bantuan, dan menyalahkan Hamas atas krisis pangan tersebut.
Dukungan Amerika Serikat
Sementara itu, perwakilan Amerika Serikat di Dewan Keamanan justru membela langkah Netanyahu. Washington menegaskan komitmen untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan, membebaskan sandera, dan mencari solusi damai.
Netanyahu mengaku bekerja sama dengan AS untuk mengatur gelombang distribusi bantuan ke Gaza, termasuk lewat jalur darat. Namun, banyak pihak menilai langkah itu kontradiktif dengan rencana serangan militer yang jelas berpotensi menambah jumlah korban.
Dengan intensitas ketegangan yang terus meningkat, banyak pengamat menilai Netanyahu kian bertindak tak terkendali, mengabaikan seruan dunia dan memperbesar risiko bencana kemanusiaan di Gaza.






