JurnalLugas.Com — Harga minyak mentah dunia pada Selasa pagi (26/8/2025) tercatat bergerak melemah tipis setelah sempat menguat di sesi sebelumnya. Aksi ambil untung investor terjadi di tengah sentimen geopolitik, ekspektasi kebijakan bank sentral Amerika Serikat, dan dinamika pasokan global.
Pergerakan Terkini
Berdasarkan data perdagangan Selasa pagi waktu Asia, minyak mentah acuan Brent diperdagangkan di kisaran US\$68,6 per barel, turun sekitar US\$0,16 dibanding penutupan sehari sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di level US\$64,6 per barel, juga melemah sekitar US\$0,16.
Meski turun tipis, kedua acuan minyak tersebut masih bertahan dekat level tertinggi dua pekan terakhir.
Faktor yang Mempengaruhi Harga
1. Risiko pasokan akibat konflik Rusia–Ukraina
Ketegangan di kawasan Eropa Timur masih menjadi pendorong utama volatilitas harga. Serangan yang mengganggu infrastruktur energi Rusia memicu kekhawatiran pasokan global. Walau harga sedikit terkoreksi pada Selasa pagi, risiko geopolitik masih menambah risk premium di pasar.
2. Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed
Pelaku pasar menantikan keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat pada September mendatang. Harapan pemangkasan suku bunga turut menekan dolar AS. Biasanya, pelemahan dolar memberi dukungan pada komoditas berdenominasi dolar, termasuk minyak mentah.
3. Produksi OPEC+ dan ketatnya stok
Pasokan global tetap menjadi perhatian, terlebih setelah beberapa negara OPEC+ meningkatkan produksi. Namun, stok minyak masih relatif ketat sehingga menopang harga Brent di kisaran tinggi US\$60-an.
Pandangan Analis
Sejumlah analis pasar menilai pergerakan harga minyak saat ini masih dalam fase tarik-menarik antara risiko pasokan dan permintaan global. Dari sisi teknikal, WTI yang berhasil menembus area US\$64–65 dianggap membuka peluang kenaikan lebih lanjut, selama level ini mampu bertahan.
Namun demikian, volatilitas diperkirakan tetap tinggi karena pasar sangat sensitif terhadap berita geopolitik dan data makroekonomi, terutama yang terkait dengan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Dampak Bagi Indonesia
- Harga minyak Indonesia (ICP): Pergerakan Brent menjadi acuan harga minyak mentah Indonesia. Kestabilan harga di kisaran US\$60–70 per barel berpotensi menambah penerimaan negara dari sektor migas, meski juga menambah beban impor BBM.
- Stabilitas rupiah & inflasi energi: Jika dolar AS melemah, beban impor energi dapat lebih ringan. Namun, potensi lonjakan mendadak akibat konflik geopolitik tetap bisa meningkatkan tekanan inflasi di dalam negeri.
Agenda Pasar yang Dipantau
- Data persediaan minyak AS (API/EIA): Angka terbaru pekan ini akan menjadi penentu arah harga jangka pendek.
- Perkembangan geopolitik Rusia–Ukraina: Gangguan lebih lanjut pada infrastruktur energi dapat mendorong harga naik signifikan.
- Sinyal kebijakan The Fed: Setiap pernyataan terkait suku bunga akan memengaruhi nilai dolar dan harga komoditas.
- Selasa, 26 Agustus 2025: Brent di kisaran US\$68,6 dan WTI US\$64,6 per barel.
- Kondisi pasar: Harga melemah tipis setelah reli, dipengaruhi aksi ambil untung, risiko pasokan global, dan ekspektasi kebijakan moneter.
- Outlook: Harga masih berpotensi bergerak dalam kisaran sempit, namun tetap rentan terhadap gejolak geopolitik dan data ekonomi utama.
Baca berita terkini lainnya di JurnalLugas.Com.






