JurnalLugas.Com – Konflik di Sudan kembali menelan korban besar. Militer Sudan menuding Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) melancarkan serangan drone ke sebuah masjid di El-Fashir, ibu kota Negara Bagian Darfur Utara, pada Jumat (19/9/2025). Insiden tragis ini terjadi saat jamaah tengah menunaikan salat Subuh di Masjid Al-Safiya.
“Milisi RSF melakukan kejahatan mengerikan dengan menyerang jamaah yang sedang melaksanakan salat Subuh menggunakan drone,” ungkap Divisi Infanteri Keenam Angkatan Darat Sudan dalam pernyataan resminya.
Serangan tersebut mengakibatkan lebih dari 75 orang tewas, termasuk pengungsi yang berlindung di kota tersebut. Puluhan lainnya dilaporkan luka-luka akibat hantaman ledakan.
Upaya Militer Gagalkan Serangan Lanjutan
Militer Sudan menyebut pasukannya bersama unit gabungan berhasil menggagalkan serangan susulan RSF di kawasan Supercam, El-Fashir. Dalam bentrokan tersebut, milisi dilaporkan mengalami kerugian besar baik dari sisi personel maupun peralatan tempur.
Sementara itu, Jaringan Dokter Sudan mencatat jumlah korban tewas awal sebanyak 43 orang. Organisasi medis independen tersebut mengecam keras serangan ini dan menyebutnya sebagai “kejahatan keji yang melanggar hukum internasional dan prinsip kemanusiaan.”
Menurut mereka, tindakan menyerang warga sipil tak bersenjata di tempat ibadah jelas merupakan bentuk kejahatan perang yang mencoreng nilai-nilai agama dan hukum internasional.
Krisis Kemanusiaan di El-Fashir
Hingga berita ini diturunkan, pihak RSF belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut. Sejak 10 Mei 2024, kelompok bersenjata itu diketahui memberlakukan blokade terhadap El-Fashir, yang menjadi pusat operasi bantuan kemanusiaan untuk lima negara bagian di Darfur.
Kondisi ini memperparah penderitaan warga sipil yang terjebak di tengah konflik, di mana akses terhadap pangan, obat-obatan, dan layanan kesehatan semakin terbatas.
Konflik Berkepanjangan di Sudan
Pertikaian antara militer Sudan dan RSF pecah sejak April 2023. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan, lebih dari 20 ribu orang tewas dan sekitar 15 juta lainnya mengungsi akibat perang yang tak kunjung usai.
Namun, sebuah penelitian gabungan dari sejumlah universitas di Amerika Serikat memperkirakan angka korban jiwa sebenarnya bisa mencapai 130 ribu orang jauh lebih tinggi dibanding laporan resmi.
Konflik yang terus berlangsung di Sudan menjadi perhatian serius komunitas internasional. Serangan terbaru di El-Fashir memperlihatkan betapa rapuhnya situasi keamanan dan betapa mendesaknya upaya diplomasi untuk menghentikan pertumpahan darah di negara tersebut.
Baca berita selengkapnya hanya di 👉 JurnalLugas.Com






