JurnalLugas.Com – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Deyang, menekankan pentingnya keterlibatan tenaga pendidik dalam menjaga kualitas makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menilai, guru dan kepala sekolah dapat berperan sebagai lini terdepan untuk mencegah risiko pangan yang bisa membahayakan siswa.
Nanik menjelaskan, keterlibatan tersebut merupakan langkah pencegahan dini pasca munculnya kasus keracunan makanan di sejumlah daerah.
Ia mengatakan, guru perlu dibekali pemahaman tentang tanda-tanda awal makanan yang bermasalah, sementara kepala sekolah diharapkan ikut bertanggung jawab dengan melakukan uji coba sederhana sebelum makanan dibagikan ke murid.
SOP Sudah Ada, Tinggal Dipertegas
Menurut Nanik, sebenarnya sudah ada Standar Operasional Prosedur (SOP) mengenai pemeriksaan makanan di sekolah. Namun, penerapannya di lapangan sering kali tidak dijalankan secara menyeluruh.
“Kalau mekanisme ini diterapkan dengan konsisten, potensi bahaya dapat dihentikan sejak makanan masih di dapur produksi hingga sampai ke tangan anak-anak,” tuturnya.
Pelatihan Khusus untuk Guru dan Kepala Sekolah
BGN juga berencana menyiapkan pelatihan agar guru dan kepala sekolah mampu mengidentifikasi makanan yang tidak layak konsumsi.
Nanik menambahkan, ciri-ciri sederhana seperti perubahan warna, kesegaran, hingga bau yang tidak normal bisa dijadikan indikator awal. Jika aroma basi sudah tercium, maka makanan tersebut sebaiknya tidak diberikan kepada siswa.
Pengawasan Berlapis
Selain pengawasan di sekolah, BGN akan memperkuat kontrol pada dapur MBG. Pengawasan ini nantinya melibatkan petugas khusus yang bekerja sama dengan pihak sekolah, masyarakat, hingga pemerintah daerah.
Evaluasi rutin juga akan digelar untuk memastikan program berjalan sesuai aturan serta mencegah terulangnya kelalaian di kemudian hari.
“Pengawasan berlapis ini adalah bagian dari komitmen pemerintah untuk menjamin setiap anak mendapatkan makanan sehat, aman, dan bergizi,” ujar Nanik.
Baca berita terkait lainnya hanya di JurnalLugas.Com






