JurnalLugas.Com – Munculnya baliho bergambar Presiden Indonesia Prabowo Subianto berdampingan dengan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Israel menuai sorotan publik.
Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menilai perlu ada penelusuran lebih jauh mengenai maksud pemasangan baliho tersebut.
Menurutnya, belum bisa dipastikan tujuan di balik kemunculan gambar tiga tokoh tersebut di ruang publik Israel.
Penjelasan Kemenlu RI
Kementerian Luar Negeri Indonesia memastikan bahwa baliho tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan kebijakan resmi pemerintah. Juru Bicara Kemenlu, Yvonne Mewengkang, menjelaskan bahwa inisiatif itu datang dari organisasi masyarakat sipil di Israel.
Ia memaparkan, kelompok tersebut sedang menggalang dukungan agar pemerintah Israel memperluas kerja sama dalam kerangka Abraham Accords. Bahkan, Indonesia disebut sebagai salah satu negara yang ingin mereka dorong agar bergabung, di samping Arab Saudi.
“Gambar itu lebih pada kampanye politik domestik di Israel, yang mengacu pada momentum pertemuan Trump dengan sejumlah pemimpin negara Arab dan Muslim di New York,” jelas Yvonne.
Sikap Indonesia Tetap Konsisten
Yvonne menegaskan kembali bahwa posisi Indonesia tidak pernah berubah: tidak ada rencana membuka hubungan diplomatik atau normalisasi dengan Israel.
Ia menekankan, Indonesia hanya akan mempertimbangkan langkah tersebut apabila Israel terlebih dahulu mengakui keberadaan Palestina sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh.
Dinamika Global
Kemunculan baliho yang memasangkan tokoh Indonesia dengan pemimpin Israel dan Amerika Serikat dinilai sebagai upaya simbolik untuk mendorong agenda politik luar negeri Israel. Namun, hingga saat ini, Indonesia tetap berpegang teguh pada sikapnya mendukung perjuangan rakyat Palestina dan menolak segala bentuk normalisasi sebelum ada pengakuan resmi terhadap Palestina.
Ikuti berita politik internasional terbaru hanya di JurnalLugas.Com






