Serangan Drone Israel Lukai Pasukan PBB di Lebanon Selatan, UNIFIL Sebut Pelanggaran Serius

JurnalLugas.Com — Ketegangan di perbatasan Lebanon–Israel kembali meningkat setelah Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) melaporkan serangan terbaru yang melibatkan drone militer Israel terhadap pos penjaga perdamaian mereka.

Dalam pernyataan resmi yang diterima pada Minggu (12/10), UNIFIL menyebutkan bahwa sebuah drone Israel menjatuhkan granat di dekat posisi misi mereka di Kafer Kela pada Sabtu (11/10). Ledakan itu melukai satu personel penjaga perdamaian yang sedang bertugas.

Bacaan Lainnya

Selain itu, dua drone Israel lainnya juga dilaporkan terbang rendah di sekitar lokasi kejadian sesaat sebelum ledakan terjadi. Menurut laporan UNIFIL, ini merupakan serangan kedua yang menargetkan pasukan penjaga perdamaian PBB dalam bulan Oktober.

“Insiden ini merupakan pelanggaran serius terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1707 dan menunjukkan pengabaian terhadap keselamatan personel perdamaian,” ujar juru bicara UNIFIL, Lt. Col. M.S., dalam keterangan pers singkatnya.

Pelanggaran Mandat dan Stabilitas Regional

UNIFIL menegaskan bahwa tindakan militer Israel tersebut tidak hanya melanggar mandat PBB, tetapi juga mengancam stabilitas di kawasan perbatasan selatan Lebanon.

“Kami menyerukan kepada Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk segera menghentikan semua bentuk serangan terhadap atau di sekitar posisi pasukan PBB yang bertugas menjaga stabilitas wilayah,” lanjut pernyataan itu.

UNIFIL, yang telah bertugas di Lebanon sejak tahun 1978, diperkuat melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 1701 pasca perang besar antara Israel dan kelompok perlawanan Hizbullah pada 2006.

Konflik yang Belum Mereda

Meskipun kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah tercapai pada November 2024, serangan lintas batas masih terjadi hampir setiap hari. Israel beralasan bahwa operasi militernya ditujukan untuk menekan aktivitas Hizbullah, namun banyak pihak menilai aksi itu sebagai bentuk pelanggaran wilayah berdaulat Lebanon.

Konflik yang memanas sejak 2023 tersebut telah menewaskan lebih dari 4.000 orang dan melukai sekitar 17.000 lainnya, sebagian besar warga sipil di wilayah Lebanon selatan.

Menurut laporan terakhir UNIFIL, Israel seharusnya sudah menarik seluruh pasukan dari Lebanon Selatan sejak awal 2025, namun hingga kini mereka masih menempati lima titik strategis di sepanjang perbatasan.

Situasi Masih Rentan

Analis keamanan regional, Dr. F.R., menilai bahwa tindakan Israel ini dapat memperburuk eskalasi dan memperlemah kepercayaan internasional terhadap proses perdamaian di Timur Tengah.

“Setiap serangan terhadap pasukan PBB bukan hanya melukai personel, tetapi juga melemahkan upaya diplomatik yang sedang dibangun,” ujarnya.

Dengan meningkatnya ketegangan dan pelanggaran terhadap mandat PBB, komunitas internasional kini kembali menyoroti perlunya mekanisme pengawasan yang lebih kuat guna mencegah konflik terbuka antara Israel dan Lebanon.

Baca berita lengkap dan analisis geopolitik terbaru hanya di JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Lebanon Laporkan Pelanggaran Zionis Israel terhadap Resolusi 1701 ke DK PBB

Pos terkait