Saham Rokok Meledak! Investor Ramai Berburu ITIC, WIIM, HMSP, dan GGRM Usai Pemerintah Bekukan Cukai 2026

JurnalLugas.Com — Saham-saham produsen rokok kompak ditutup menguat pada perdagangan Senin (20/10/2025), seiring pergeseran minat investor dari saham konglomerasi menuju emiten dengan fundamental kuat.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC) mencatat lonjakan signifikan sebesar 18,95% ke level Rp364 per saham, mematahkan tren pelemahan beberapa pekan terakhir setelah sempat reli pada September.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) turut menguat 15% ke Rp1.150 per saham, diikuti PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) yang naik 7,41% ke Rp725, serta PT Gudang Garam Tbk (GGRM) yang menguat 2,38% ke Rp11.825.

Pergeseran Sektoral di Pasar Saham

Pengamat pasar modal M. Yeoh menilai penguatan saham rokok dipicu oleh rotasi sektor yang tengah terjadi di bursa.

“Sekarang sedang ada shifting sectoral dari saham konglomerasi ke saham berbasis fundamental,” ujarnya, Senin (20/10/2025).

Menurutnya, tren tersebut tak hanya terjadi di sektor rokok, tetapi juga merembet ke emiten defensif seperti Unilever Indonesia (UNVR) dan perbankan besar.

“Perpindahan ini juga terlihat di defensive companies seperti UNVR dan big banks,” imbuhnya.

Dari sisi teknikal, Yeoh menyoroti area harga menarik pada saham rokok besar.

“Terlepas dari isu cukai dan rokok ilegal, secara teknikal GGRM dan HMSP sudah masuk zona menarik,” katanya.

Ia menjelaskan, HMSP tengah melakukan retracement di area neckline pola cup and handle di level 660, dengan potensi penguatan hingga 780. Adapun GGRM sedang menguji area support gap di 11.175.

“Kalau mampu bertahan di level itu, peluang pembalikan arah cukup besar,” jelasnya.

Peluang dari Kebijakan Cukai yang Longgar

Dalam riset bertanggal 29 September 2025, CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) memproyeksikan pelonggaran rezim cukai dapat membuka ruang pertumbuhan laba bersih (EPS) bagi emiten rokok dalam beberapa tahun mendatang.

CGSI memperkirakan kebijakan tersebut tidak hanya berdampak positif pada kinerja tahun fiskal 2026 (FY26F), tetapi juga menopang ekspansi jangka menengah.
Meski demikian, tantangan tetap muncul dari maraknya peredaran rokok ilegal yang menawarkan harga jauh lebih murah.

Menurut riset CGSI, pangsa pasar rokok ilegal bisa mencapai 20%. Karena itu, penegakan hukum yang lebih tegas diyakini dapat mengalihkan permintaan ke produk resmi.

CGSI juga mencatat bahwa setiap kenaikan 1% volume penjualan dapat meningkatkan pertumbuhan laba bersih FY26F sebesar 14% untuk GGRM, 5% untuk HMSP, dan 3% untuk WIIM. Saat ini, sektor rokok diperdagangkan pada P/E 9 kali FY26F, mendekati batas bawah rata-rata lima tahunnya.

“Dengan kebijakan cukai yang lebih longgar, peluang re-rating valuasi terbuka lebar, namun risiko tetap ada jika permintaan melemah,” tulis CGSI dalam risetnya.
Dari beberapa emiten, HMSP disebut sebagai pilihan utama di sektor rokok.

Pemerintah Pertahankan Cukai dan Harga Rokok 2026

Pemerintah memastikan Cukai Hasil Tembakau (CHT) dan Harga Jual Eceran (HJE) rokok tidak akan naik pada 2026.
Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas industri rokok yang dalam lima tahun terakhir menghadapi tekanan berat.

Menteri Keuangan P. Y. Sadewa menegaskan tidak ada rencana pembahasan internal terkait kenaikan cukai atau harga eceran.

“Belum ada kebijakan seperti itu, saya nggak tahu,” ujarnya di sela peringatan HUT ke-79 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jakarta, Senin (13/10/2025).

Menurutnya, menjaga harga tetap stabil penting agar tidak menimbulkan kesenjangan antara produk legal dan ilegal.

“Kalau harga rokok legal naik, pasar rokok ilegal bisa makin besar,” tegasnya.

Karena itu, pemerintah memilih mempertahankan CHT dan HJE untuk tahun depan.

“Sampai sekarang belum ada rencana menaikkan. Saya pikir biarkan saja dulu,” ujarnya.

Kombinasi antara kebijakan cukai yang stabil, valuasi murah, dan pergeseran minat investor menuju saham fundamental membuat saham-saham rokok kembali menarik di mata pelaku pasar.
Namun, keberlanjutan tren positif ini tetap bergantung pada pengendalian rokok ilegal dan pertumbuhan permintaan domestik.

Baca berita ekonomi terkini lainnya di JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Saham PACK Anjlok 10% Usai Masuk Pemantauan Khusus Dikaitkan Backdoor Listing CNGR Rp160 Triliun

Pos terkait