JurnalLugas.Com — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tengah mengajukan kembali tambahan dana penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL). Pengajuan ini dilakukan karena dana sebelumnya sebesar Rp55 triliun sudah terserap seluruhnya untuk menopang pembiayaan dan likuiditas perbankan.
“Dari laporan yang saya terima, dana yang sebelumnya sudah digunakan sepenuhnya. Jadi Mandiri kemungkinan akan ajukan tambahan,” ujar Purbaya di Jakarta, Jumat (24/10/2025).
Pemerintah Siap Tambah Dukungan Jika Diperlukan
Purbaya menegaskan bahwa pemerintah akan mempertimbangkan kembali penyaluran dana tambahan kepada bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) apabila efek dorongan terhadap ekonomi nasional masih dianggap belum maksimal.
Menurutnya, langkah penempatan dana pemerintah di perbankan telah memperlihatkan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi, terutama dari sisi peningkatan pembiayaan dan konsumsi masyarakat.
“Kami melihat perekonomian mulai bergerak ke arah positif. Tapi tetap akan kami pantau, kalau dorongannya masih kurang, tentu pemerintah tidak menutup kemungkinan untuk menambah lagi,” ucapnya.
Kredit Mulai Meningkat, Tapi Masih Moderat
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan kredit perbankan tumbuh 7,7 persen secara tahunan (year-on-year) pada September 2025. Angka ini sedikit lebih tinggi dibanding Agustus yang tumbuh 7,56 persen.
Purbaya menilai laju pertumbuhan kredit yang masih terbatas itu tidak terlepas dari dampak gejolak sosial yang sempat terjadi akibat aksi demonstrasi beberapa waktu lalu. “Faktor ketidakstabilan sosial sempat menahan aktivitas ekonomi, tapi kami optimistis bisa pulih di kuartal terakhir,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah masih memiliki ruang untuk melakukan evaluasi dan menyesuaikan langkah stimulus fiskal hingga akhir tahun ini.
BI: Likuiditas Melimpah Dorong Uang Beredar
Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menuturkan bahwa penempatan dana pemerintah di perbankan turut meningkatkan jumlah uang beredar di masyarakat.
“Likuiditas di sistem keuangan menjadi lebih longgar, sehingga mampu mendorong perputaran uang di sektor riil,” ungkap Perry.
BI mencatat pertumbuhan uang primer (M0) adjusted mencapai 18,58 persen yoy pada September 2025, lebih tinggi dibanding M0 non-adjusted sebesar 13,16 persen yoy.
Perry menjelaskan bahwa M0 adjusted mencerminkan dampak kebijakan makroprudensial, termasuk penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) bagi perbankan sebagai insentif likuiditas.
Langkah ini dinilai efektif menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus memperkuat fungsi intermediasi perbankan di tengah kondisi global yang masih bergejolak.
Dengan kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang selaras, pemerintah dan Bank Indonesia optimistis momentum pertumbuhan ekonomi nasional akan terus berlanjut hingga akhir tahun.
Selengkapnya di JurnalLugas.Com






