Rupiah Melemah Tipis di Awal Perdagangan, Sentimen Global Masih Menekan

JurnalLugas.Com — Nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis pada awal perdagangan Kamis, 13 November 2025. Berdasarkan data pasar spot di Jakarta, mata uang Garuda turun 7 poin atau 0,04 persen ke level Rp16.724 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp16.717 per dolar AS.

Analis pasar uang menilai, pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS). Sentimen global tersebut membuat dolar AS tetap bertahan kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Bacaan Lainnya

Ekonom Bank Mega, R. Sutanto, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan berada di bawah tekanan eksternal. “Investor menunggu kejelasan dari The Fed terkait potensi pemangkasan suku bunga tahun depan. Selama ketidakpastian itu berlangsung, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, akan cenderung melemah,” ujarnya dalam riset harian, Kamis (13/11).

Baca Juga  Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Menguat Tipis Hari Ini

Selain itu, tren penguatan dolar AS juga turut dipicu oleh data inflasi Amerika yang masih di atas target The Fed. Kondisi ini mempersempit peluang pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat, sehingga arus modal asing lebih memilih aset-aset dolar.

Namun, di sisi lain, sejumlah analis menilai tekanan terhadap rupiah masih bersifat terbatas. Kinerja ekspor yang stabil serta cadangan devisa yang tetap kuat diyakini akan menjaga stabilitas nilai tukar.

Pengamat pasar uang D. Pramudya menambahkan, “Selama Bank Indonesia tetap konsisten menjaga intervensi di pasar valas dan menstabilkan likuiditas, rupiah berpotensi kembali menguat dalam jangka menengah.”

Baca Juga  Rupiah Kembali Melemah terhadap Dolar AS, Pelaku Pasar Tekanan Global

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia masih berada di kisaran 105,3, menandakan dolar tetap dominan di pasar global.

Pelaku pasar kini menantikan data ekonomi domestik seperti neraca perdagangan dan inflasi yang akan menjadi faktor penggerak rupiah selanjutnya.

Dengan kondisi global yang masih bergejolak, para ekonom menyarankan agar investor tetap berhati-hati dalam mengambil posisi terhadap aset berdenominasi rupiah.

Baca berita ekonomi lainnya hanya di JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait