JurnalLugas.Com – Situasi geopolitik di benua Amerika kembali memanas setelah laporan media internasional menyebut Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah memberi lampu hijau kepada Badan Intelijen Pusat (CIA) untuk menyiapkan operasi rahasia di Venezuela. Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi Gedung Putih menekan pemerintahan Presiden Nicolas Maduro, Selasa (19/11/2025).
Menurut sejumlah sumber yang mendapat pengarahan khusus, seperti dikutip media tersebut, otoritas Washington menilai operasi tersembunyi itu diperlukan untuk “mempersiapkan medan” sebelum Amerika Serikat mengambil tindakan lanjutan terkait dinamika politik di Caracas.
Jalur Diplomasi Belakang Dibuka Kembali
Selain upaya intelijen, laporan itu mengungkapkan bahwa Gedung Putih turut mengaktifkan kembali jalur diplomasi belakang dengan pemerintah Venezuela. Dalam komunikasi tidak resmi tersebut, sumber menyebut Maduro sempat mengindikasikan kemungkinan mundur setelah memasuki fase transisi tertentu.
Seorang pejabat yang mengetahui perkembangan itu, disingkat “Sbr”, mengatakan bahwa Washington sedang “mengukur setiap opsi, baik diplomatik maupun non-diplomatik” untuk mendorong perubahan politik di negara Amerika Latin tersebut.
Maduro Peringatkan Trump Soal Intervensi Militer
Dalam pidato nasional yang disiarkan televisi, Senin malam, Maduro memberikan peringatan keras kepada Washington. Menurutnya, opsi militer apa pun dari AS akan menjadi “akhir politik” bagi Presiden Trump, terutama di tengah tekanan domestik jelang agenda politik dalam negeri.
“Orang-orang di sekeliling presiden AS memprovokasi konflik bersenjata untuk keuntungan politik,” ujar Maduro, seraya menegaskan bahwa pihaknya memahami pola operasi yang didorong Gedung Putih.
Maduro menambahkan bahwa Caracas tetap membuka pintu dialog langsung. Diplomasi, katanya, adalah posisi resmi pemerintah yang “tidak pernah berubah”.
AS Intensifkan Operasi Maritim
Sementara itu, sejak awal September, Amerika Serikat melancarkan 21 serangan terhadap kapal-kapal yang beroperasi di Laut Karibia dan Samudra Pasifik Timur. Washington mengklaim kapal-kapal tersebut terlibat dalam penyelundupan narkoba.
Aksi militer maritim itu dilaporkan telah menewaskan 83 orang. Namun, otoritas Venezuela menyebut operasi tersebut sebagai “peningkatan tekanan politik terselubung”.
Situasi ini membuat ketegangan kedua negara kembali berada di puncak, dengan risiko konflik terbuka yang meningkat jika diplomasi tidak menemukan titik temu.
Selengkapnya kunjungi:
JurnalLugas.Com






