JurnalLugas.Com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Pasukan Stabilisasi Internasional di Jalur Gaza telah beroperasi secara efektif dan menunjukkan kekuatan signifikan sejak diterjunkan. Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Senin (15/12), di tengah persiapan Washington untuk memasuki fase kedua proses perdamaian Gaza yang dinilai krusial bagi masa depan wilayah tersebut.
Menurut Trump, kehadiran pasukan internasional bukan sekadar simbol, melainkan telah memberikan dampak nyata dalam menjaga stabilitas awal pascakonflik. Ia menegaskan bahwa kekuatan pasukan tersebut akan terus bertambah seiring semakin banyaknya negara yang menyatakan kesiapan bergabung dalam misi stabilisasi.
“Pasukan stabilisasi sudah berjalan dengan sangat kuat dan akan semakin solid dengan dukungan internasional,” ujar Trump singkat.
Fase Kedua Perdamaian Gaza Segera Diumumkan
Trump mengungkapkan rencananya untuk mengumumkan secara resmi dimulainya fase kedua proses perdamaian Gaza sebelum perayaan Natal. Tahapan ini merupakan bagian dari rencana perdamaian 20 poin yang dirancang pemerintahannya, yang mencakup penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah tambahan di Gaza, pengerahan penuh Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF), serta pembentukan struktur pemerintahan baru di wilayah kantong Palestina tersebut.
Fase kedua ini dipandang sebagai fondasi penting untuk menciptakan stabilitas jangka menengah, sekaligus membuka jalan bagi rekonstruksi dan pemulihan kehidupan sipil warga Gaza yang terdampak konflik berkepanjangan.
Dewan Perdamaian Pimpin Pemerintahan Transisi Gaza
Dalam kerangka rencana tersebut, Trump mengusulkan pembentukan struktur tata kelola baru yang akan dipimpin oleh Dewan Perdamaian (Board of Peace). Dewan ini direncanakan beranggotakan sekitar 10 pemimpin negara dari kawasan Arab dan Barat, dengan Trump sebagai ketuanya.
Dewan Perdamaian akan berperan sebagai otoritas tertinggi pemerintahan Gaza pada masa transisi. Mandat utamanya meliputi menjaga keamanan, memastikan stabilitas politik, memfasilitasi rekonstruksi infrastruktur, serta menyiapkan fondasi bagi pemerintahan sipil jangka panjang yang lebih inklusif.
Tokoh Internasional Masuk Dewan Eksekutif
Di bawah Dewan Perdamaian, akan dibentuk dewan eksekutif internasional yang bertugas menjalankan kebijakan teknis dan operasional di lapangan. Sejumlah nama besar disebut akan terlibat, di antaranya mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, menantu sekaligus utusan khusus Trump Jared Kushner, serta Steve Witkoff. Dewan ini juga akan diisi oleh pejabat senior dari negara-negara yang tergabung dalam Dewan Perdamaian.
Pemerintahan AS menilai keterlibatan figur-figur internasional berpengalaman penting untuk memastikan koordinasi lintas sektor politik, keamanan, dan ekonomi berjalan selaras dan efektif.
Dukungan Internasional
Rencana ambisius ini menandai langkah terbaru Washington dalam upaya menyelesaikan konflik Gaza yang telah memicu krisis kemanusiaan serius selama bertahun-tahun. Di satu sisi, inisiatif ini membuka peluang bagi keterlibatan internasional yang lebih luas dalam menjaga keamanan pascaperang. Namun di sisi lain, rencana tersebut diperkirakan akan menuai perdebatan tajam.
Sejumlah pengamat mempertanyakan legitimasi struktur pemerintahan baru yang diusulkan, serta efektivitas Pasukan Stabilisasi Internasional di tengah situasi keamanan dan politik Gaza yang masih rapuh. Tantangan di lapangan, termasuk resistensi kelompok lokal dan dinamika geopolitik regional, menjadi ujian nyata bagi keberhasilan fase kedua perdamaian ini.
Meski demikian, Trump tetap optimistis bahwa dukungan global yang semakin besar akan memperkuat peluang tercapainya stabilitas berkelanjutan di Gaza.
Baca berita internasional dan analisis geopolitik terkini lainnya hanya di JurnalLugas.Com.






