JurnalLugas.Com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan keyakinannya bahwa China tidak akan mengambil langkah militer untuk merebut Taiwan selama dirinya masih menjabat sebagai kepala negara. Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam keterangannya pada Kamis, 8 Januari 2026, di tengah sorotan dunia terhadap stabilitas kawasan Asia Timur.
Trump menilai Presiden China Xi Jinping cenderung menahan diri selama masa kepemimpinannya di Gedung Putih. Ia mengatakan bahwa kemungkinan tindakan tersebut baru akan muncul jika kepemimpinan Amerika Serikat berganti. Menurut Trump, komunikasi langsung antara dirinya dan Xi menjadi faktor penting dalam menjaga situasi tetap terkendali.
Ia juga menegaskan telah menyampaikan pesan tegas kepada Xi terkait Taiwan. Trump menyebut dirinya akan sangat tidak senang apabila China mencoba mengambil alih wilayah tersebut dengan cara paksa. Meski begitu, Trump menyatakan keyakinannya bahwa Xi memahami posisi Amerika Serikat dan tidak akan mengambil langkah ekstrem selama masa jabatannya berlangsung.
Isu Taiwan sendiri telah lama menjadi sumber ketegangan antara Beijing dan Taipei. China menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri, sementara Taiwan telah menjalankan pemerintahan sendiri sejak 1949 dan mempertahankan sistem politik serta militernya secara independen. Perbedaan pandangan inilah yang terus memicu dinamika geopolitik di kawasan Asia-Pasifik.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menanggapi pertanyaan terkait operasi militer Amerika Serikat dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang baru-baru ini terjadi. Ia menilai situasi Venezuela tidak dapat disamakan dengan persoalan Taiwan. Menurut Trump, ancaman yang berasal dari Venezuela bersifat langsung dan nyata bagi keamanan Amerika Serikat.
Trump menuding pemerintah Venezuela telah membiarkan anggota kelompok kriminal masuk ke wilayah AS, sehingga menimbulkan masalah serius di dalam negeri. Ia menekankan bahwa kondisi tersebut sangat berbeda dengan China, yang menurutnya tidak menghadapi persoalan arus migrasi ilegal maupun peredaran narkoba lintas batas seperti yang terjadi di Amerika Serikat.
Pernyataan Trump ini dinilai sebagai upaya menenangkan pasar global dan sekutu-sekutu AS di Asia yang khawatir terhadap potensi konflik di Selat Taiwan. Meski demikian, para pengamat menilai bahwa masa depan Taiwan tetap sangat bergantung pada dinamika hubungan AS–China serta perubahan kepemimpinan di kedua negara.
Dengan situasi global yang terus berkembang, pernyataan Trump menegaskan bahwa stabilitas kawasan untuk saat ini masih terjaga, meskipun bayang-bayang ketegangan geopolitik tetap menjadi perhatian utama komunitas internasional.
Baca berita dan analisis global lainnya di https://jurnalluguas.com






