Ambisi Danantara Konsolidasi 1.068 BUMN Demi Aset Rp15.000 Triliun Lebih

Investasi
Ilustrasi Investasi

JurnalLugas.Com — Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia menegaskan ambisi besar dalam memperkuat posisi ekonomi nasional melalui pengelolaan aset negara yang lebih terintegrasi. Lembaga ini menargetkan nilai total aset kelolaan meningkat hingga tiga kali lipat pada 2030, dengan transformasi dan konsolidasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai pilar utama strategi.

Managing Director Global Relations and Governance Danantara Indonesia, Mohamad Al-Arief, mengungkapkan bahwa saat ini total aset yang dikelola Danantara telah mencapai sekitar 900 miliar dolar Amerika Serikat atau setara Rp15,29 kuadriliun. Nilai tersebut menjadi fondasi kuat untuk menciptakan pertumbuhan jangka panjang berbasis efisiensi dan penciptaan nilai.

Bacaan Lainnya

Dalam forum panel diskusi World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Al-Arief menekankan bahwa lima tahun ke depan akan menjadi fase krusial dalam memperbesar aset melalui optimalisasi kinerja dan restrukturisasi korporasi. Target jangka panjangnya, kata dia, adalah melipatgandakan nilai aset hingga tiga kali lipat pada akhir dekade ini.

Konsolidasi BUMN Jadi Kunci Transformasi

Untuk mencapai target ambisius tersebut, Danantara merancang konsolidasi besar-besaran terhadap 1.068 perusahaan pelat merah yang saat ini berada di bawah portofolionya. Dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun mendatang, jumlah tersebut akan disederhanakan menjadi sekitar 221 entitas usaha yang lebih ramping dan profesional.

Baca Juga  GoTo Buka Suara Soal Isu Investasi Danantara Benarkah akan Akuisisi Saham?

Menurut Al-Arief, saat ini ribuan BUMN tersebut tersebar dalam kurang lebih 50 holding di berbagai sektor strategis. Proses konsolidasi diyakini mampu memperkuat daya saing dan meningkatkan efektivitas pengelolaan perusahaan negara dalam jangka panjang.

Ia menilai bahwa struktur BUMN yang terlalu gemuk berpotensi menghambat kecepatan pengambilan keputusan dan efisiensi operasional. Oleh karena itu, perampingan melalui penggabungan dan konsolidasi menjadi langkah tak terelakkan dalam menghadapi persaingan global.

Dorong BUMN Indonesia Masuk Kelas Dunia

Danantara juga menaruh harapan besar agar transformasi ini mampu mengangkat reputasi BUMN Indonesia di kancah internasional. Saat ini, dua BUMN utama, yakni Pertamina dan PLN, telah tercatat dalam daftar Fortune 500.

Dengan restrukturisasi yang lebih terarah, Al-Arief optimistis akan semakin banyak BUMN nasional yang mampu menembus daftar perusahaan terbesar dunia tersebut. Hal ini tidak hanya berdampak pada citra Indonesia, tetapi juga memperkuat kepercayaan investor global.

Proses konsolidasi sendiri telah dimulai melalui tinjauan bisnis mendasar terhadap seluruh lini usaha. Tahapan ini menjadi dasar penilaian sebelum dilakukan penggabungan, efisiensi, hingga penciptaan nilai tambah yang berkelanjutan.

Baca Juga  Garuda Indonesia & Pelita Air Siap Merger? Ini Penjelasan Danantara dan Pertamina

Diplomasi Ekonomi Indonesia di Panggung Global

Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyatakan bahwa kehadiran Indonesia dalam Annual Meeting World Economic Forum 2026 merupakan bagian dari strategi diplomasi ekonomi yang konsisten. Partisipasi aktif ini bertujuan memperluas kerja sama internasional serta meningkatkan daya saing sektor-sektor ekonomi nasional.

Forum WEF yang berlangsung pada 19–22 Januari 2026 tersebut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan utama, mulai dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Danantara Indonesia, hingga Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

Dengan agenda konsolidasi BUMN dan diplomasi ekonomi yang terarah, Danantara Indonesia diproyeksikan menjadi motor penggerak utama transformasi ekonomi nasional menuju era daya saing global yang lebih kuat.

Baca berita ekonomi dan investasi nasional lainnya hanya di https://JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait