Wall Street Anjlok! Harga Minyak Melonjak Usai Ancaman Penutupan Selat Hormuz

JurnalLugas.Com — Bursa saham Amerika Serikat kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Kamis (12/3). Penurunan tajam indeks utama Wall Street dipicu lonjakan harga minyak dunia yang memicu kekhawatiran baru terhadap tekanan inflasi dan biaya energi global.

Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 1,56 persen dan berakhir di level 46.677,85. Sementara itu, S&P 500 turun 1,52 persen menjadi 6.672,62, dan Nasdaq Composite melemah 1,78 persen ke posisi 22.311,98.

Bacaan Lainnya

Tekanan jual terlihat di sebagian besar sektor dalam indeks S&P 500. Delapan dari 11 sektor utama ditutup melemah, dengan sektor industri serta barang konsumen non-esensial menjadi penekan terbesar. Kedua sektor tersebut masing-masing terkoreksi lebih dari dua persen.

Sebaliknya, sektor energi dan utilitas menjadi pengecualian dengan mencatat kenaikan. Sektor energi menguat hampir satu persen, sementara utilitas naik sekitar 0,73 persen seiring melonjaknya harga minyak dunia.

Baca Juga  Project Freedom Gagal? Iran Hancurkan Kapal Perang AS di Selat Hormuz

Lonjakan harga minyak dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman April melonjak sekitar 9,72 persen dan ditutup di level 95,73 dolar AS per barel.

Kenaikan harga tersebut dipicu pernyataan dari Mojtaba Khamenei yang menegaskan bahwa penutupan Strait of Hormuz akan terus digunakan sebagai alat tekanan terhadap pihak yang dianggap sebagai musuh.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis yang menjadi rute utama distribusi minyak global. Setiap gangguan di kawasan ini biasanya langsung memicu lonjakan harga energi dunia.

Untuk meredam dampak lonjakan harga energi, pemerintah Amerika Serikat mengambil langkah darurat. Chris Wright mengumumkan rencana pelepasan 172 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve.

Dalam keterangannya, Wright menyebut pelepasan cadangan strategis tersebut dilakukan secara bertahap selama sekitar 120 hari guna menstabilkan pasokan energi dan menekan gejolak harga minyak.

Di sektor korporasi, saham Honda Motor tertekan lebih dari lima persen setelah perusahaan memperingatkan potensi kerugian besar terkait evaluasi ulang strategi kendaraan listrik. Perusahaan memperkirakan biaya tambahan dapat mencapai 2,5 triliun yen dan mengubah proyeksi tahun fiskalnya dari laba menjadi rugi bersih.

Baca Juga  Iran Selat Hormuz Aman, Tuding Serangan AS Langgar Hukum Internasional

Sementara itu, pada perdagangan setelah laporan keuangan, saham Petco Health & Wellness melonjak hampir 35 persen setelah hasil kinerja perusahaan dinilai lebih kuat dari perkiraan pasar.

Sebaliknya, saham Dollar General turun sekitar 6 persen. Sedangkan saham Adobe melemah 1,43 persen menjelang pengumuman laporan keuangan perusahaan setelah penutupan pasar.

Gejolak harga minyak dan ketegangan geopolitik diperkirakan masih akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar global dalam beberapa waktu ke depan. Investor kini mencermati langkah pemerintah dan bank sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan energi yang meningkat.

Baca berita ekonomi global lainnya di https://JurnalLugas.Com.

(ED)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait