JurnalLugas.Com – Petani di Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara (Sumut), menyampaikan sejumlah catatan penting kepada pemerintah daerah terkait berbagai persoalan pertanian yang dinilai belum tertangani secara optimal.
Permasalahan yang disoroti para petani mencakup jadwal tanam cabai, rehabilitasi irigasi pertanian, perbaikan saluran pembuangan air, hingga pemasangan kembali klep pada sejumlah titik yang selama ini menjadi penyebab banjir di lahan pertanian.
Salah seorang petani, Soefriyanto, memaparkan sejumlah persoalan tersebut yang menurutnya harus segera menjadi perhatian serius pemerintah Kabupaten Batu Bara.
1. Klep Pembuangan Air PTPN IV Harus Segera Dipasang
Menurut Soefriyanto, klep air pembuangan milik PTPN IV Perkebunan Tanah Itam Ilir yang mengalir ke lahan pertanian masyarakat Desa Lubuk Cuik, tepatnya di Dusun I, harus segera dipasang kembali.
Pasalnya, ketika hujan deras terjadi dan kawasan perkebunan mengalami banjir, air langsung mengalir deras ke lahan pertanian masyarakat hingga ke pemukiman warga.
“Tolong pasang kembali klep di perkebunan tanah itam Ilir yang di dusun I lubuk cuik, kalau banjir habis petani, jangan enak kebun aja, terkait siapa yang lepas klep kemarin, petani gak mau tahu,” ujar Soefriyanto, Minggu 15 Maret 2026.
Ia menjelaskan, limpasan air tersebut tidak hanya merendam lahan pertanian di Lubuk Cuik, tetapi juga berdampak hingga wilayah Pematang Segenap dan bahkan rumah warga di Desa Gambus Laut.
2. Klep Pembuangan di Dusun VI Juga Perlu Dipasang Kembali
Permasalahan serupa juga terjadi pada klep pembuangan di Dusun VI Desa Lubuk Cuik yang mengarah ke area pertanian Nanasiam, Desa Bulan-Bulan, hingga Desa Titi Merah Pematang Jernang.
Menurutnya, aliran air dari perkebunan Tanah Itam Ilir yang tidak terkendali kerap memicu banjir di kawasan pertanian tersebut.
3. Rehabilitasi Irigasi Harus Sesuai Waktu
Soefriyanto juga menyoroti jadwal rehabilitasi saluran irigasi utama yang kerap dilakukan saat petani sedang menanam.
Ia menilai kondisi tersebut sangat merugikan petani karena mengganggu ketersediaan air untuk tanaman.
“Nah untuk rehab saluran irigasi utama jangan petani tanam pemerintah pula lakukan rehab, rehab itu pas lagi panen, ini berulang kali terjadi, jangan permainkan petani,” jelasnya.
4. Saluran Pembuangan Mengalami Pendangkalan
Selain itu, petani juga meminta pemerintah melakukan pembersihan dan pengerukan saluran pembuangan yang mengalami pendangkalan.
Kondisi ini menyebabkan aliran air tersumbat sehingga memicu genangan hingga banjir di beberapa area pertanian.
5. Klep Sekunder Saluran Pembuangan Perlu Dipasang
Petani juga mengusulkan pemasangan klep sekunder pada saluran pembuangan besar di area pertanian.
Hal ini dinilai penting untuk mencegah air dari saluran utama masuk kembali ke lahan pertanian ketika debit air meningkat.
“Pasang juga klep di parit pembuangan, iya kalau meluap air pembuangan tidak masuk ke lahan petani, ” Jelasnya.
6. Rehabilitasi Parit Irigasi Sekunder
Permasalahan lain yang tidak kalah penting adalah kondisi parit irigasi sekunder atau yang dikenal sebagai parit cacing.
Beberapa saluran irigasi tersebut mengalami pendangkalan bahkan mati total sehingga petani kesulitan mendapatkan pasokan air.
Kondisi ini bahkan memicu konflik antarpetani akibat perebutan air.
“Ini sangat penting, parit cacing dari parit irigasi utama tolong di rehab, mana yang dangkal dan mati tolong di perbaiki, ini jadi konflik juga sesama petani akibat rebutan air, ” Jelasnya juga.
7. Jadwal Tanam Jangan Bersamaan
Petani juga berharap pemerintah dapat mengatur jadwal tanam agar tidak dilakukan secara bersamaan di seluruh wilayah.
Menurut mereka, jadwal tanam yang serentak sering menyebabkan distribusi air tidak merata sehingga sebagian lahan kekurangan pasokan air.
8. Pemerintah Diminta Lebih Sering Turun ke Lapangan
Selain persoalan teknis, petani juga berharap pemerintah daerah, khususnya pejabat di sektor pertanian, lebih sering turun langsung ke lapangan dan berkomunikasi dengan petani.
“Pak pejabat pemerintah pertanian, sinilah lihat petani, rajinlah jalan-jalan lihat tanaman petani, jangan cuma seremoni biar terlihat apa gitu, kalau komunikasi baik maka petani juga sejahtera Bahagia,” pungkas.
Para petani berharap pemerintah Kabupaten Batu Bara benar-benar memperhatikan sektor pertanian secara serius, mengingat peran petani sebagai salah satu tulang punggung perekonomian nasional.
“Pak Bupati Batu Bara, mohon sejumlah catatan tadi di realisasikan, dengan perhatian pak bupati diharapkan petani sejahtera bahagia,” Sebut petani milenial itu.
Baca berita lainnya
(JurnalLugas.Com)
(SF)






