JurnalLugas.Com — Harga emas dunia kembali menunjukkan tren penguatan signifikan dengan mencatat kenaikan selama empat hari berturut-turut hingga Rabu (1/4/2026). Lonjakan ini dipicu oleh pelemahan dolar Amerika Serikat serta meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga emas spot naik sebesar 1,95 persen dan mencapai level USD4.758,07 per troy ons. Kenaikan ini mempertegas posisi emas sebagai aset lindung nilai yang tetap diminati di tengah ketidakpastian global.
Pelemahan dolar AS menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas. Kondisi ini membuat emas lebih terjangkau bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga meningkatkan permintaan global.
Analis pasar dari RJO Futures, Bob Haberkorn, menyebut bahwa harga emas berpotensi menembus level psikologis USD5.000 per troy ons. Ia menilai hal tersebut sangat mungkin terjadi jika ketegangan geopolitik mulai mereda dan ekspektasi pemangkasan suku bunga kembali menguat.
“Jika de-eskalasi benar terjadi, maka peluang emas menembus USD5.000 sangat terbuka karena pasar akan kembali mengantisipasi penurunan suku bunga,” ujarnya.
Haberkorn juga menekankan bahwa perhatian investor saat ini tertuju pada dinamika konflik yang melibatkan Iran dan jalur strategis Selat Hormuz, yang menjadi kunci stabilitas pasokan energi global.
Sementara itu, pernyataan dari Donald Trump terkait kemungkinan gencatan senjata sempat memicu optimisme pasar. Namun klaim tersebut dibantah oleh pihak Iran yang menyebutnya tidak berdasar.
Di sisi lain, analis pasar dari IG, Tony Sycamore, mengingatkan bahwa berakhirnya konflik bisa menjadi faktor yang kompleks bagi pergerakan emas.
Menurutnya, meredanya konflik dapat mengurangi permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Namun di sisi lain, penurunan harga energi dan inflasi justru bisa memperkuat peluang pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve pada 2026.
“Situasi ini menjadi dua sisi yang berbeda. Perdamaian bisa menekan harga emas, tetapi kebijakan moneter yang lebih longgar justru berpotensi mendorong kenaikan,” jelasnya.
Meski saat ini mengalami penguatan, harga emas sempat tertekan sepanjang Maret dengan penurunan lebih dari 11 persen. Hal ini dipicu oleh lonjakan harga energi akibat konflik yang meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga.
Dari sisi data ekonomi, laporan ketenagakerjaan ADP menunjukkan bahwa perekrutan tenaga kerja sektor swasta di AS masih tumbuh stabil pada Maret. Selain itu, penjualan ritel juga mencatat kenaikan pada Februari, meski kenaikan harga bahan bakar diperkirakan akan membebani konsumsi ke depan.
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mencatat kenaikan. Harga perak spot naik 1,2 persen menjadi USD76,03 per ons, platinum menguat 1,6 persen ke USD1.979,30, dan paladium meningkat 1,3 persen ke USD1.495,95.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar logam mulia masih menjadi pilihan utama investor dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Baca selengkapnya di JurnalLugas.Com
(ED)






