Bank QNB Indonesia catat aset Rp13,2 triliun di 2025, kredit melonjak 18% dan NPL turun

JurnalLugas.Com — Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian, PT Bank QNB Indonesia Tbk justru menunjukkan ketahanan kinerja yang solid sepanjang 2025. Bank ini berhasil menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan penguatan fundamental.

Direktur Utama Nick Groene mengungkapkan bahwa total aset perseroan tumbuh sekitar 3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dari Rp12,9 triliun pada 2024 menjadi Rp13,2 triliun di 2025. Menurutnya, capaian ini menjadi indikator bahwa strategi pertumbuhan yang dijalankan berjalan konsisten dan terukur.

Bacaan Lainnya

“Kinerja 2025 mencerminkan model bisnis yang semakin tangguh, sekaligus kemajuan dalam memperkuat fondasi bank,” ujar Nick dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (4/4/2026).

Lebih dari sekadar pertumbuhan aset, Bank QNB Indonesia juga mencatat lonjakan kredit bersih sebesar 18 persen yoy. Angka ini melampaui rata-rata industri perbankan nasional yang berada di kisaran 9,6 persen yoy berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan.

Pertumbuhan kredit tersebut terutama ditopang oleh sektor-sektor strategis seperti informasi dan komunikasi, industri manufaktur, serta jasa keuangan dan asuransi. Fokus pada sektor produktif ini menjadi bagian dari komitmen perseroan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Baca Juga  Cuan Besar! Laba PT PP London Sumatera Indonesia Tbk (LSIP) Grup Salim Tembus Rp1,25 Triliun, Naik 55%

Tak hanya itu, langkah progresif juga terlihat dari implementasi prinsip keuangan berkelanjutan. Untuk pertama kalinya, Bank QNB Indonesia menyalurkan kredit berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG), menandai arah baru dalam pembiayaan yang lebih bertanggung jawab.

Dari sisi profitabilitas, bank ini membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp50,8 miliar. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 11 persen yoy, mencerminkan meningkatnya kepercayaan nasabah terhadap kinerja dan stabilitas bank.

Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan signifikan. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) bruto turun menjadi 2,2 persen, dari sebelumnya 2,7 persen. Penurunan ini diikuti oleh berkurangnya provisi, yang menandakan efektivitas manajemen risiko serta disiplin dalam penyaluran kredit.

Di sisi likuiditas dan permodalan, posisi bank tetap kuat. Liquidity Coverage Ratio (LCR) tercatat sebesar 119,95 persen, sementara Net Stable Funding Ratio (NSFR) mencapai 140,40 persen—keduanya jauh di atas ambang batas minimum regulator sebesar 100 persen.

Baca Juga  Laba TRIM Melejit 128%, Trimegah Sekuritas Raup Rp593 Miliar

Memasuki 2026, Bank QNB Indonesia mengarahkan strategi pada penguatan bisnis perbankan korporasi dan institusional. Selain itu, transformasi digital menjadi prioritas untuk meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas layanan.

Pengembangan infrastruktur digital, optimalisasi jaringan regional QNB Group, serta pendalaman relasi dengan nasabah korporasi besar dan kelompok usaha akan menjadi fokus utama.

“Kami melihat peluang besar dalam perdagangan dan investasi lintas negara. Dengan fundamental yang kuat dan arah strategi yang semakin terarah, kami optimistis mampu menangkap peluang pertumbuhan ke depan, tanpa mengabaikan manajemen risiko,” kata Nick.

Dengan kombinasi pertumbuhan yang terjaga, kualitas aset yang membaik, serta ekspansi strategis yang terarah, Bank QNB Indonesia menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain yang adaptif di tengah perubahan lanskap industri perbankan nasional.

Baca selengkapnya di JurnalLugas.Com

(ED)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait