JurnalLugas.Com — Kasus dugaan kelalaian dalam pengawasan bayi di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung kembali menjadi perhatian publik setelah keluarga pasien resmi menyatakan akan menempuh jalur hukum. Insiden yang disebut melibatkan orang tak dikenal (OTK) ini memunculkan dugaan adanya prosedur yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Pihak keluarga menilai peristiwa tersebut bukan kejadian biasa, melainkan terdapat rangkaian kejanggalan sejak awal proses penanganan bayi di rumah sakit.
Keluarga Sebut Ada Kejanggalan Sejak Awal
Ibu korban, Nina Saleha, mengungkapkan bahwa dirinya sudah merasakan ketidakwajaran sejak proses penyerahan bayi berlangsung. Ia menyebut situasi saat itu sangat membingungkan, dengan komunikasi yang tidak jelas dan kondisi yang membuat keluarga panik.
Dalam keterangannya, Nina menegaskan bahwa ia tidak menyangka proses di ruang perawatan bisa berujung pada situasi yang menimbulkan kepanikan besar.
Kuasa Hukum Soroti SOP dan Dugaan Kelalaian
Kuasa hukum keluarga, Mira Widyawati, menegaskan bahwa pihaknya tetap akan melanjutkan pendalaman kasus meskipun rumah sakit telah menyampaikan permintaan maaf secara resmi.
Menurutnya, ada sejumlah hal yang dinilai janggal dan perlu diuji secara hukum, terutama terkait prosedur penyerahan bayi oleh tenaga medis.
Mira menyampaikan secara tegas bahwa tindakan yang terjadi tidak dapat dianggap sederhana. “Perawat yang menyerahkan bayi tersebut adalah tenaga senior, tetapi tindakan menyerahkan bayi kepada pihak yang tidak jelas tetap tidak sesuai SOP yang berlaku,” ujarnya dengan penekanan pada dugaan pelanggaran prosedur.
Ia juga menambahkan bahwa alasan yang disebutkan dalam kejadian tersebut tidak dapat dibenarkan dalam standar layanan medis. “Alasan karena orang tua tidak datang saat dipanggil bukan dasar yang sah untuk menyerahkan bayi kepada orang lain,” lanjutnya.
Sorotan terhadap Sikap Petugas Keamanan
Selain tenaga medis, keluarga juga menyoroti sikap petugas keamanan rumah sakit yang dinilai tidak tepat dalam situasi darurat. Mereka menyebut adanya permintaan penilaian layanan atau rating bintang lima di tengah kondisi keluarga yang sedang panik.
Hal tersebut dianggap tidak sensitif terhadap situasi emosional pasien dan keluarga yang sedang mengalami tekanan berat.
Dampak Psikologis Dialami Keluarga
Keluarga juga mengungkapkan bahwa Nina Saleha mengalami tekanan psikologis setelah kejadian tersebut. Ia disebut sulit tidur, mengalami kecemasan berlebihan, hingga sempat menunjukkan gejala gangguan persepsi akibat trauma.
Kuasa hukum menyebut kondisi itu muncul setelah keluarga menyadari adanya potensi kehilangan bayi saat berada di lingkungan rumah sakit.
“Setelah kejadian itu, kondisi psikologis klien kami terganggu cukup serius, termasuk gangguan tidur dan kepanikan berkepanjangan,” ungkap Mira.
Dorongan Evaluasi Menyeluruh
Kasus ini kini mendorong desakan agar pihak rumah sakit melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan pasien, khususnya pada ruang bersalin dan perawatan bayi.
Keluarga berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi di fasilitas kesehatan mana pun, dan meminta adanya penegakan standar prosedur yang lebih ketat.
Peristiwa di RSHS Bandung ini menjadi pengingat pentingnya keamanan dan ketelitian dalam pelayanan kesehatan, terutama yang berkaitan dengan bayi dan pasien rentan. Publik kini menunggu langkah lanjutan dari pihak rumah sakit maupun instansi terkait untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas kasus ini.
Berita lainnya JurnalLugas.Com
(BW)






