JurnalLugas.Com — Peristiwa nyaris hilangnya bayi di ruang perawatan intensif kembali mengguncang kepercayaan publik terhadap sistem keamanan rumah sakit. Seorang ibu muda di Kabupaten Bandung, Nina Saleha, mengungkap pengalaman mencekam saat bayinya hampir dibawa oleh orang tak dikenal di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
Kejadian yang berlangsung pada Minggu, 5 April 2026 itu kini menjadi sorotan luas, terutama terkait standar prosedur pengamanan bayi di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU).
Kronologi: Bayi Hilang dari Inkubator, Ditemukan di Gendongan Orang Lain
Menurut pengakuan Nina Saleha, ia bersama suaminya sempat meninggalkan ruangan NICU untuk membeli makanan, setelah memastikan bayinya dalam proses perawatan.
Namun, suasana berubah drastis saat ia kembali.
Alih-alih menemukan bayinya di inkubator, Nina justru melihat seorang perempuan lain tengah menggendong bayi yang mengenakan selimut biru yang ia yakini milik anaknya.
“Awalnya saya coba tenang, tapi perasaan saya tidak enak. Selimutnya sangat saya kenali,” ujarnya.
Kecurigaan itu berubah menjadi kepastian setelah ia mengecek inkubator bayinya tidak ada. Tanpa menunggu lama, Nina langsung menghampiri perempuan tersebut dan memastikan identitas bayinya.
Dugaan Kelalaian Bayi Diserahkan Tanpa Verifikasi
Fakta yang lebih mengejutkan muncul saat Nina meminta penjelasan dari perawat. Ia mengaku mendapatkan jawaban yang membuatnya semakin kecewa.
Perawat disebut menyerahkan bayi tersebut karena tidak ada respons saat nama Nina dipanggil.
“Saya sempat tidak percaya. Masa bayi bisa langsung diberikan tanpa dicek identitasnya?” ungkapnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, bayi tersebut sudah tidak menggunakan gelang identitas saat berada di tangan orang lain. Hal ini memicu dugaan adanya pelanggaran serius terhadap prosedur keamanan.
Respons Lambat dan Kejanggalan Lain
Tidak hanya itu, Nina juga menyoroti lambannya respons petugas keamanan saat ia melaporkan kejadian tersebut. Bahkan di tengah situasi panik, ia mengaku sempat diminta memberikan penilaian terhadap layanan rumah sakit.
Situasi ini dinilai sangat tidak sensitif dan memperparah kondisi psikologis keluarga.
Ia juga mengungkap adanya dugaan bahwa gelang identitas bayinya sengaja dilepas atau digunting, meski belum ada klarifikasi resmi terkait hal tersebut.
Evaluasi Sistem Keamanan Rumah Sakit
Kasus ini membuka kembali diskusi tentang lemahnya sistem pengawasan di ruang NICU, yang seharusnya menjadi area dengan pengamanan paling ketat.
Seorang pengamat layanan kesehatan yang enggan disebut namanya menilai, prosedur standar seharusnya tidak memberi celah sekecil apa pun.
“Verifikasi identitas bayi adalah hal mutlak. Tidak cukup hanya dengan pemanggilan nama,” ujarnya singkat.
Kepercayaan Publik Dipertaruhkan
Pihak Rumah Sakit Hasan Sadikin memang telah menyampaikan permohonan maaf. Namun, bagi keluarga korban, insiden ini bukan sekadar kesalahan administratif.
Ada trauma dan ketakutan yang membekas, serta tuntutan agar kejadian serupa tidak terulang pada keluarga lain.
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa keamanan pasien, terutama bayi, tidak boleh dikompromikan dalam kondisi apa pun.
Baca berita dan laporan investigasi lainnya hanya di:
https://JurnalLugas.Com
(BW)






