Universitas Andalas Kecipratan Dapur MBG, Aidinil Zetra Diluar Bisnis UNAND

JurnalLugas.Com — Universitas Andalas (UNAND) menegaskan belum akan terburu-buru mengambil keputusan terkait keterlibatan langsung dalam pembangunan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pihak kampus menyatakan setiap langkah yang diambil harus melalui kajian akademik menyeluruh agar tetap sejalan dengan fungsi utama perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Bacaan Lainnya

Sekretaris Universitas Andalas, Aidinil Zetra, mengatakan kampus tidak bisa langsung masuk ke ranah operasional program tanpa mempertimbangkan aspek kelembagaan, sumber daya, hingga dampak jangka panjang terhadap aktivitas akademik.

Menurutnya, pendirian dapur MBG bukan sekadar persoalan teknis penyediaan makanan, tetapi juga menyangkut tata kelola, kesiapan sistem, serta kesesuaian dengan mandat pendidikan tinggi.

Baca Juga  Puluhan Dapur MBG Disuspend BGN, Ini Tindakan Pemprov Maluku

“Universitas harus melakukan analisis komprehensif terlebih dahulu karena program ini berada di luar bisnis inti perguruan tinggi,” ujar Aidinil di Padang, Kamis (7/5/2026).

Pernyataan tersebut muncul setelah Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong kampus-kampus di Indonesia menjadikan program MBG sebagai laboratorium hidup untuk pengembangan riset, inovasi pangan, dan penguatan kualitas pendidikan.

UNAND menilai gagasan tersebut memiliki potensi positif, terutama dalam membuka ruang kolaborasi lintas disiplin ilmu. Meski demikian, keterlibatan universitas tetap harus berpijak pada prinsip Tridarma Perguruan Tinggi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pendidikan Tinggi.

Aidinil menjelaskan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab utama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, keterlibatan dalam program nasional di luar aktivitas akademik perlu dipastikan tidak mengganggu fokus utama institusi.

Ia menambahkan, peluang kontribusi kampus terhadap program MBG tetap terbuka. Bentuk dukungan tidak selalu harus melalui pembangunan dapur umum, tetapi juga dapat diwujudkan melalui penelitian gizi, pengembangan teknologi pangan, hingga pendampingan masyarakat.

Baca Juga  Terulang Lagi Ratusan Warga Keracunan MBG, Wagub Jateng Bongkar Penyebabnya

Saat ini, pihak kampus masih mengumpulkan berbagai pertimbangan sebelum menentukan langkah akhir. UNAND juga mempelajari model yang telah diterapkan sejumlah perguruan tinggi lain, termasuk Universitas Hasanuddin yang lebih dahulu terlibat dalam pengembangan dapur MBG.

Keputusan final terkait partisipasi langsung dalam pembangunan dapur makan bergizi disebut akan diumumkan setelah seluruh kajian internal selesai dilakukan.

Baca berita menarik lainnya di JurnalLugas.Com

(Soefriyanto)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait