JurnalLugas.Com — Pemerintah China resmi menghentikan seluruh impor produk unggas dari Brasil setelah terdeteksi kasus flu burung di negara eksportir unggas terbesar di dunia tersebut. Keputusan tegas ini diumumkan pada Jumat, 30 Mei 2025, dan berpotensi memutus rantai perdagangan bernilai lebih dari US\$1 miliar atau sekitar Rp16 triliun.
Langkah ini diumumkan oleh otoritas bea cukai China, yang menegaskan bahwa larangan berlaku bagi seluruh produk unggas dan turunannya baik yang dikirim langsung maupun tidak langsung dari Brasil. Tindakan ini diambil sebagai bentuk kewaspadaan tinggi guna mencegah penyebaran virus flu burung ke wilayah Negeri Tirai Bambu.
Tak hanya itu, otoritas China juga memberlakukan kewajiban disinfeksi menyeluruh terhadap semua limbah hewan serta residu tanaman asal Brasil sebelum dapat memasuki pasar domestik.
Pukulan Ekonomi untuk Brasil
Larangan total ini menjadi tamparan telak bagi sektor ekspor Brasil, mengingat China merupakan pasar utama daging ayam Brasil selama bertahun-tahun terakhir. Hubungan dagang kedua negara sebelumnya sedang dalam upaya penguatan, terlebih di tengah ketegangan perdagangan global akibat kebijakan proteksionis Presiden AS, Donald Trump.
Brasil sendiri sebenarnya telah melakukan langkah pencegahan dengan menghentikan sementara ekspor unggas ke China dan Uni Eropa sejak awal Mei 2025. Keputusan itu menyusul temuan kasus flu burung patogenik tinggi di sebuah peternakan komersial.
Namun, keputusan larangan sepihak dari China tetap berdampak besar, mengingat Brasil menyumbang hampir sepertiga dari total ekspor unggas dunia, dan sekitar 10% dari total ekspor ayam Brasil sepanjang 2024 dikirimkan ke pasar China, berdasarkan data dari Departemen Pertanian AS.
Perdagangan Senilai US\$1,5 Miliar Terancam
Data dari bea cukai China menyebutkan, nilai perdagangan unggas bilateral dengan Brasil sepanjang tahun 2024 mencapai sekitar US\$1,5 miliar. Dengan adanya penghentian impor ini, hubungan dagang antara kedua raksasa ekonomi tersebut diprediksi akan mengalami tekanan serius dalam beberapa bulan ke depan.
China dikenal sangat ketat dalam mengendalikan masuknya penyakit hewan melalui jalur impor, dan keputusan ini menunjukkan sikap tegas mereka dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Untuk berita terkini lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com.






