JurnalLugas.Com — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,4 mengguncang wilayah Simalungun, Sumatra Utara, Sabtu (15/8/2026) sore. Getaran gempa terasa cukup kuat di sejumlah daerah, dengan intensitas tertinggi mencapai V MMI.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), guncangan paling terasa di Kota Tebingtinggi, Kabanjahe, dan Limapuluh.
Pada wilayah tersebut, getaran diperkirakan mencapai skala V MMI, yang berarti guncangan dirasakan hampir seluruh penduduk dan berpotensi membuat orang terbangun.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan pemetaan tingkat guncangan menunjukkan sejumlah wilayah mengalami dampak getaran yang cukup kuat.
“Intensitas V MMI terpantau di Tebingtinggi, Kabanjahe, dan Limapuluh,” ujar Wijayanto dalam keterangannya yang diterima JurnalLugas.Com, Sabtu 15 Agustus 2026.
Sementara itu, getaran dengan intensitas IV MMI dirasakan di beberapa wilayah lainnya, termasuk Raya, Panombeian Pane, Panei, Kota Pematangsiantar, hingga Kota Pangururan.
Perbedaan tingkat guncangan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk jarak wilayah dari pusat gempa serta kondisi batuan dan tanah setempat. Karena itu, satu gempa yang sama dapat dirasakan dengan kekuatan berbeda di setiap daerah.
BMKG mencatat episenter gempa berada pada koordinat 2,91 derajat Lintang Utara dan 98,93 derajat Bujur Timur. Lokasinya berada di darat, sekitar 11 kilometer arah tenggara Simalungun, Sumatra Utara.
Sumber gempa berada cukup dalam. Hasil pemutakhiran BMKG menunjukkan kedalaman gempa mencapai sekitar 168 kilometer sehingga dikategorikan sebagai gempa bumi menengah.
Menurut Wijayanto, gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas subduksi lempeng. Analisis mekanisme sumber menunjukkan pergerakan sesar dengan karakter oblique normal fault atau sesar geser turun.
Meski kekuatannya mencapai M6,4 dan dirasakan di sejumlah kota, gempa tersebut tidak memicu ancaman tsunami. Hasil pemodelan BMKG menyatakan gempa tidak memiliki potensi untuk menimbulkan tsunami.
“Hasil pemodelan menunjukkan gempa ini tidak berpotensi tsunami,” jelas Wijayanto.
Hal lain yang menjadi perhatian adalah perkembangan aktivitas seismik setelah gempa utama. Hingga pukul 18.16 WIB, BMKG belum mendeteksi adanya gempa susulan.
“Monitoring sampai pukul 18.16 WIB belum menunjukkan gempa susulan,” kata Wijayanto.
Masyarakat yang merasakan guncangan diimbau tetap tenang dan tidak terpancing informasi yang belum terverifikasi. Warga juga perlu memastikan kondisi bangunan, terutama apabila menemukan retakan atau kerusakan setelah gempa.
Gempa M6,4 di Simalungun ini menunjukkan bahwa guncangan kuat dapat dirasakan hingga wilayah yang cukup jauh dari episenter. Pemantauan aktivitas kegempaan tetap dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi setelah gempa utama.
Informasi mengenai gempa dan potensi bencana sebaiknya selalu merujuk pada keterangan resmi BMKG maupun instansi berwenang agar masyarakat tidak menerima informasi yang keliru.
Baca berita terbaru dan informasi aktual lainnya hanya di JurnalLugas.Com.
JurnalLugas.Com
(Catur)






