Pantangan Makanan bagi Penderita Gagal Ginjal, Ini Perlu Dibatasi agar Kondisi Tidak Makin Berat

JurnalLugas.Com – Memilih makanan bukan sekadar soal selera bagi penderita gagal ginjal. Ketika fungsi ginjal sudah menurun, tubuh mengalami kesulitan membuang sejumlah zat sisa dan mineral dari dalam darah. Karena itu, pola makan perlu mendapat perhatian agar beban kerja ginjal tidak semakin berat.

Tidak semua makanan harus dihindari sepenuhnya. Jenis dan jumlah makanan yang perlu dibatasi dapat berbeda pada setiap pasien, bergantung pada tingkat kerusakan ginjal, hasil pemeriksaan laboratorium, obat yang dikonsumsi, hingga apakah pasien menjalani dialisis.

Bacaan Lainnya

Namun, ada sejumlah kelompok makanan yang umumnya perlu diperhatikan secara khusus.

Salah satu yang paling sering menjadi perhatian adalah makanan tinggi garam atau natrium. Natrium berlebihan dapat membuat tubuh menahan cairan dan berkontribusi terhadap tekanan darah tinggi.

Kondisi tersebut dapat menjadi masalah serius bagi orang yang fungsi ginjalnya sudah terganggu.

Makanan instan, makanan kemasan, makanan cepat saji, keripik, makanan kalengan, daging olahan, serta aneka saus dan bumbu siap pakai biasanya perlu dibatasi karena kandungan natriumnya dapat cukup tinggi.

Penggunaan garam dapur juga sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan. Untuk memberikan rasa, penderita gagal ginjal dapat mendiskusikan alternatif bumbu dengan dokter atau ahli gizi yang menangani kondisinya.

Makanan tinggi kalium juga perlu mendapat perhatian. Ginjal yang tidak bekerja optimal dapat kesulitan menjaga kadar kalium dalam darah. Jika kadarnya terlalu tinggi, kondisi tersebut dapat mengganggu kerja otot dan jantung.

Pisang, jeruk, alpukat, kentang, tomat, buah kering, serta beberapa jenis kacang-kacangan termasuk makanan yang mengandung kalium cukup tinggi. Akan tetapi, bukan berarti semua makanan tersebut otomatis dilarang bagi setiap penderita gagal ginjal.

Baca Juga  Asam Urat Tinggi, Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya Sebelum Menimbulkan Komplikasi

Pembatasan kalium seharusnya disesuaikan dengan hasil pemeriksaan darah. Pasien dengan kadar kalium normal belum tentu harus menghindari seluruh makanan tinggi kalium.

Selain kalium, fosfor menjadi mineral lain yang perlu diperhatikan. Pada gangguan fungsi ginjal, kemampuan tubuh mengatur fosfor dapat ikut terganggu.

Kadar fosfor yang terlalu tinggi dalam jangka panjang dapat berhubungan dengan masalah tulang dan pembuluh darah.

Produk susu dalam jumlah tertentu, makanan olahan, minuman bersoda jenis tertentu, daging olahan, serta makanan yang menggunakan bahan tambahan fosfat dapat menjadi sumber fosfor.

Membaca label kemasan menjadi kebiasaan penting, terutama untuk produk makanan yang mengandung bahan tambahan dengan istilah “phosphate” atau “fosfat”.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah asupan protein.

Sebagian penderita penyakit ginjal mungkin perlu mengatur jumlah protein yang dikonsumsi, terutama pada kondisi tertentu sebelum menjalani dialisis. Namun, pasien yang sudah menjalani dialisis justru dapat membutuhkan asupan protein yang berbeda.

Artinya, diet tinggi protein maupun diet rendah protein tidak seharusnya diterapkan secara sembarangan. Jumlah daging, telur, ikan, ayam, tahu, dan sumber protein lainnya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Begitu pula dengan minuman dan makanan yang mengandung banyak cairan. Pada penderita gagal ginjal tertentu, terutama yang mengalami penurunan produksi urine atau memiliki masalah kelebihan cairan, jumlah minum mungkin harus dibatasi.

Kelebihan cairan dapat menyebabkan tubuh membengkak, berat badan meningkat dengan cepat, tekanan darah naik, hingga membuat jantung dan paru-paru bekerja lebih berat.

Karena itu, pembatasan cairan bukan berarti hanya menghitung air putih. Sup, es, es krim, agar-agar, serta makanan lain yang banyak mengandung air juga dapat ikut diperhitungkan sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Makanan olahan juga sebaiknya tidak menjadi pilihan utama. Selain natrium, sejumlah produk kemasan dapat mengandung fosfor tambahan, kalium, gula, atau bahan lain yang perlu diperhatikan oleh pasien dengan gangguan ginjal.

Baca Juga  Makanan Terbaik Menjaga Kesehatan Ginjal, Nomor 1 Mudah Ditemukan di Rumah

Memilih makanan segar dan memasaknya sendiri dapat membantu seseorang mengontrol jumlah garam serta bahan tambahan yang masuk ke tubuh.

Yang perlu digarisbawahi, pantangan makanan bagi penderita gagal ginjal tidak bisa disamaratakan. Kondisi seseorang dengan gagal ginjal kronis tahap awal dapat berbeda jauh dengan pasien yang sudah menjalani hemodialisis.

Dokter dan ahli gizi biasanya mempertimbangkan hasil pemeriksaan seperti kadar kalium, fosfor, natrium, fungsi ginjal, tekanan darah, status gizi, serta kondisi kesehatan lainnya sebelum menentukan pola makan.

Karena itu, penderita gagal ginjal sebaiknya tidak langsung menghapus banyak jenis makanan dari menu harian hanya berdasarkan daftar pantangan yang beredar di internet.

Kebutuhan nutrisi tetap harus terpenuhi. Pembatasan yang terlalu ketat tanpa pengawasan justru berisiko menyebabkan kekurangan energi dan zat gizi.

Pada akhirnya, pola makan untuk penderita gagal ginjal bukan sekadar mencari makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan. Yang lebih penting adalah mengatur jenis, jumlah, dan frekuensi makanan sesuai kondisi tubuh.

Jika seseorang telah didiagnosis mengalami gangguan fungsi ginjal, perubahan pola makan sebaiknya dibicarakan dengan dokter atau ahli gizi.

Pemeriksaan berkala juga penting untuk mengetahui apakah kadar kalium, fosfor, cairan, dan zat lain dalam tubuh masih berada dalam batas yang diharapkan.

Informasi mengenai pantangan makanan dapat menjadi pengetahuan awal, tetapi tidak menggantikan anjuran medis yang diberikan berdasarkan kondisi pasien secara langsung.

Baca informasi kesehatan dan berita terkini lainnya hanya di JurnalLugas.Com: JurnalLugas.Com

(Wening)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait