JurnalLugas.Com — Banyak orang mengenal asam urat sebagai penyakit yang menyebabkan nyeri, bengkak, dan rasa panas pada persendian. Namun, masalahnya tidak selalu berhenti di kaki atau sendi.
Kadar asam urat yang tinggi dan gangguan akibat penumpukan kristal juga berkaitan dengan kesehatan ginjal, sehingga kondisi ini tidak sebaiknya dibiarkan tanpa pengelolaan.
Ginjal memiliki peran penting dalam membuang berbagai zat sisa dari dalam tubuh melalui urine. Asam urat juga dikeluarkan melalui ginjal. Ketika jumlah asam urat terlalu tinggi atau kemampuan ginjal membuangnya terganggu, kadar asam urat dalam tubuh dapat meningkat.
Hubungan antara asam urat dan ginjal bahkan bisa berlangsung dua arah. Gangguan fungsi ginjal dapat membuat pembuangan asam urat berkurang, sementara kadar asam urat yang tinggi dapat berkaitan dengan masalah pada ginjal.
Penelitian yang tersimpan di National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) juga membahas hubungan kadar asam urat dengan risiko gangguan ginjal pada pasien penyakit ginjal kronis.
Salah satu masalah yang dapat muncul adalah batu ginjal asam urat. NIDDK menjelaskan bahwa batu jenis ini dapat terbentuk ketika urine mengandung terlalu banyak asam urat.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan nyeri dan, bila menimbulkan sumbatan atau komplikasi, berpotensi mengganggu fungsi ginjal.
Karena itu, pertanyaan apakah asam urat bisa merusak ginjal memiliki jawaban yang perlu dilihat secara lebih menyeluruh.
Ya, kadar asam urat yang tinggi dan penyakit gout dapat berkaitan dengan masalah ginjal, tetapi tidak berarti setiap orang yang memiliki asam urat tinggi pasti akan mengalami gagal ginjal.
Banyak faktor lain yang turut menentukan kesehatan ginjal. Penyakit diabetes dan tekanan darah tinggi, misalnya, merupakan penyebab paling umum penyakit ginjal kronis pada orang dewasa.
Mengapa Asam Urat Perlu Dikendalikan?
Asam urat terbentuk ketika tubuh memecah purin, zat yang secara alami terdapat dalam tubuh dan sejumlah makanan. Sebagian besar asam urat kemudian dibuang melalui urine.
Persoalan muncul ketika produksi asam urat meningkat atau tubuh tidak mampu membuangnya secara optimal. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kadar asam urat dalam darah meningkat.
Pada penderita gout, kristal asam urat dapat terbentuk dan menumpuk di sekitar persendian sehingga memicu peradangan. Jika kadar asam urat terus tinggi dan tidak dikelola dengan baik, perhatian terhadap kondisi ginjal juga menjadi penting.
Namun, angka asam urat dalam pemeriksaan darah tidak seharusnya menjadi satu-satunya patokan untuk menilai kondisi ginjal. Fungsi ginjal perlu dinilai melalui pemeriksaan yang sesuai.
NIDDK menyebut pemeriksaan darah dan urine digunakan untuk mendeteksi serta memantau penyakit ginjal. Dua indikator penting yang sering diperiksa adalah eGFR untuk memperkirakan fungsi penyaringan ginjal dan albumin dalam urine untuk melihat adanya kerusakan ginjal.
Tanda yang Jangan Diabaikan
Masalah ginjal terkadang berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Karena itu, seseorang tidak seharusnya menunggu munculnya keluhan berat sebelum melakukan pemeriksaan, terutama jika memiliki faktor risiko.
Perubahan jumlah urine, urine berbusa, darah dalam urine, pembengkakan pada kaki atau tubuh, tekanan darah yang meningkat, maupun keluhan lain yang tidak biasa perlu mendapat perhatian medis.
Gejala tersebut tidak otomatis berarti kerusakan ginjal akibat asam urat karena bisa disebabkan berbagai kondisi lain.
NIDDK menegaskan bahwa penyakit ginjal pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga pemeriksaan menjadi salah satu cara untuk mengetahui kondisi ginjal.
Cara Menjaga Asam Urat dan Ginjal
Menjaga berat badan tetap sehat, menerapkan pola makan seimbang, cukup beraktivitas fisik, serta mengendalikan tekanan darah dan gula darah merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan ginjal.
Bagi orang yang telah didiagnosis gout atau memiliki kadar asam urat tinggi, pengelolaan sebaiknya dilakukan berdasarkan penilaian tenaga medis. Jangan menghentikan, mengganti, atau menambah obat penurun asam urat tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.
Pemeriksaan berkala juga penting jika seseorang memiliki faktor risiko penyakit ginjal. Dokter dapat menilai kadar asam urat sekaligus melihat fungsi ginjal melalui pemeriksaan darah dan urine bila diperlukan.
Pada akhirnya, asam urat bukan sekadar persoalan nyeri sendi. Kondisi tersebut memiliki hubungan dengan kesehatan ginjal, terutama ketika kadar asam urat tinggi berlangsung dalam jangka panjang atau muncul komplikasi seperti batu ginjal.
Meski demikian, tidak tepat pula menganggap setiap penderita asam urat pasti mengalami kerusakan ginjal.
Risiko setiap orang berbeda dan dipengaruhi berbagai faktor, termasuk diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit ginjal yang sudah ada, pola hidup, obat-obatan, serta kondisi kesehatan lainnya.
Mengetahui kadar asam urat saja belum cukup. Menjaga kesehatan ginjal membutuhkan perhatian terhadap tekanan darah, pemeriksaan urine, fungsi penyaringan ginjal, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan.
JurnalLugas.Com menyajikan informasi kesehatan, teknologi, ekonomi, nasional, dan berita terkini lainnya melalui JurnalLugas.Com.
(Wening)





