Demo Tolak MBG, Apa Makna Kemerdekaan di Era Prabowo-Gibran, “Kemerdekaan Masih Semu”

JurnalLugas.Com — Sehari setelah perayaan HUT Kemerdekaan RI, pertanyaan tentang makna kemerdekaan justru muncul dari jalanan Jakarta. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar aksi bertajuk #MerebutKemerdekaan di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Selasa, 18 Agustus 2026.

Aksi tersebut tidak sekadar membawa kritik terhadap pemerintah. Mahasiswa mempertanyakan apakah kemerdekaan yang dirasakan masyarakat hari ini sudah benar-benar hadir dalam kehidupan sosial, ekonomi, hingga ruang sipil.

Bacaan Lainnya

Kepala Bidang Sosial Politik BEM UI, Muhammad Hafizh Hernanda, menilai kemerdekaan yang diklaim pemerintah masih menyisakan persoalan mendasar.

Ia menyinggung penanganan bencana di Aceh dan Nusa Tenggara Timur (NTT), serta persoalan kebebasan masyarakat dalam menyampaikan kritik.

Hafizh menyebut kemerdekaan saat ini sebagai sesuatu yang belum sepenuhnya dirasakan rakyat. Menurutnya, negara yang merdeka semestinya mampu menjamin rasa aman, kebebasan berpendapat, sekaligus memberikan perlindungan ketika masyarakat menghadapi bencana.

“Kami melihat kemerdekaan yang dibawa pemerintah masih semu,” ujar Hafizh, seraya menyoroti kondisi masyarakat terdampak bencana di Aceh dan NTT.

Bagi BEM UI, persoalan kemerdekaan tidak berhenti pada seremoni kenegaraan. Kemerdekaan dinilai harus terlihat dari kemampuan negara memenuhi hak dasar masyarakat dan membuka ruang kritik tanpa tekanan.

Aksi mahasiswa sempat mendapat pengadangan aparat kepolisian ketika massa BEM UI hendak menuju Bundaran HI. Ketegangan terjadi setelah mahasiswa dan aparat terlibat adu mulut di sekitar Gedung Plaza UOB. Akses menuju lokasi aksi tetap tidak diberikan.

Situasi tersebut berdampak pada arus lalu lintas. Jalan MH Thamrin dari arah Dukuh Atas menuju Bundaran HI sempat diblokade sehingga kendaraan harus berhenti sementara.

Di sisi lain, Polda Metro Jaya menyiapkan ribuan personel untuk mengamankan berbagai kegiatan penyampaian aspirasi dan aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah Jakarta.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Budi mengatakan terdapat 9.242 personel gabungan yang disiapkan. Jumlah tersebut terdiri dari unsur Polda Metro Jaya, polres jajaran, TNI, serta personel BKO Mabes Polri.

Karo Ops Polda Metro Jaya Kombes Laode Aries El Fathar mengingatkan agar pengamanan aksi dilakukan secara terukur. Ia meminta personel mengendalikan emosi dan mengedepankan pendekatan humanis.

“Pengamanan harus humanis, sabar dan terukur. Penegakan hukum menjadi langkah terakhir,” kata Laode dalam arahannya.

Sementara itu, BEM UI sebelumnya menyatakan aksi #MerebutKemerdekaan membawa delapan tuntutan. Di antaranya penghentian KKN, reforma agraria, penurunan beban harga kebutuhan pokok dan BBM, evaluasi PSN, penghentian MBG dan KDMP, penguatan otonomi daerah, percepatan penanganan bencana di Sumatra dan Flores, serta penghentian tindakan represif dan intervensi TNI-Polri di ruang sipil.

Ketua BEM UI Yatalathof Ma’shum Imawan menegaskan aksi tersebut digelar sehari setelah seremoni kenegaraan untuk mempertanyakan kembali arti kemerdekaan bagi masyarakat.

Pertanyaan yang dibawa mahasiswa sederhana, tetapi menyentuh persoalan besar: kemerdekaan seharusnya tidak hanya dirayakan setiap 17 Agustus, melainkan dirasakan setiap hari oleh rakyat.

Jika kritik masih dianggap ancaman, korban bencana merasa belum mendapatkan perhatian yang layak, dan ruang sipil terus diperdebatkan, maka makna kemerdekaan memang belum selesai untuk dibicarakan.

Bagi BEM UI, kemerdekaan bukan sekadar simbol negara. Kemerdekaan adalah ketika rakyat memiliki ruang untuk bersuara, mendapatkan perlindungan, dan merasakan kehadiran negara tanpa rasa takut.

JurnalLugas.Com terus menghadirkan informasi dan analisis aktual dengan sudut pandang yang lugas dan kritis.

(Soefriyanto)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  BEM Bersatu Dukung MBG dan Tuding Tiyo Ardianto Terlibat Politik Praktis

Pos terkait