Apakah Teh Aman bagi Penderita Penyakit Ginjal? Ini Perlu Diperhatikan

JurnalLugas.Com — Teh menjadi salah satu minuman yang banyak dikonsumsi setiap hari. Namun bagi penderita penyakit ginjal, muncul pertanyaan sederhana yang penting: apakah teh masih aman diminum?

Jawabannya tidak selalu sama untuk setiap orang. Jenis penyakit ginjal, kadar kalium dan fosfor dalam darah, kondisi tekanan darah, hingga aturan pembatasan cairan dapat menentukan apakah seseorang masih boleh menikmati teh.

Bacaan Lainnya

Secara umum, teh seduhan tanpa tambahan berlebihan bukan otomatis menjadi minuman yang harus dihindari penderita penyakit ginjal.

National Kidney Foundation mencantumkan teh dalam kelompok minuman yang perlu diperhatikan porsinya dalam pola makan penyakit ginjal, sementara kebutuhan setiap pasien tetap dapat berbeda.

Yang perlu diperhatikan bukan hanya tehnya, tetapi juga jenis dan jumlahnya.

Teh hitam atau teh hijau mengandung kafein. Pada sebagian orang, kafein dapat memengaruhi tekanan darah. Karena tekanan darah memiliki kaitan erat dengan kesehatan ginjal, penderita penyakit ginjal yang tekanan darahnya sulit dikendalikan sebaiknya tidak berlebihan mengonsumsi minuman berkafein.

“Jumlah minuman perlu disesuaikan dengan kondisi ginjal dan hasil pemeriksaan pasien,” demikian prinsip yang juga ditekankan dalam pengaturan pola makan penyakit ginjal, karena kebutuhan cairan, kalium, dan mineral tidak sama pada setiap pasien, yang dirangkum JurnalLugas.Com, Kamis 20 Agustus 2026.

Hal lain yang sering luput adalah teh kemasan atau teh dengan banyak tambahan. Minuman teh siap minum dapat mengandung gula serta bahan tambahan tertentu. Mayo Clinic mencatat sejumlah teh kemasan dan minuman teh tertentu dapat menjadi sumber fosfor yang perlu diperhatikan oleh orang dengan gangguan fungsi ginjal.

Karena itu, teh tawar yang diseduh sendiri umumnya lebih mudah dikontrol dibandingkan teh manis kemasan. Jumlah gula juga sebaiknya tidak berlebihan, terutama bagi penderita penyakit ginjal yang sekaligus memiliki diabetes atau masalah metabolisme lainnya.

Ada pula kondisi khusus yang membutuhkan perhatian lebih. Bagi orang yang memiliki riwayat batu ginjal jenis kalsium oksalat, teh termasuk salah satu sumber oksalat.

National Kidney Foundation menyebut pembatasan makanan dan minuman tinggi oksalat dapat menjadi bagian dari pola makan untuk mencegah batu ginjal, tergantung jenis batu yang dialami.

Artinya, pernyataan bahwa “teh pasti aman untuk semua penderita penyakit ginjal” juga tidak tepat.

Penderita penyakit ginjal kronis yang sudah menjalani pembatasan cairan juga perlu menghitung teh sebagai bagian dari konsumsi cairan harian. NIDDK menjelaskan bahwa sebagian pasien penyakit ginjal kronis memang perlu membatasi jumlah cairan karena ginjal yang mengalami kerusakan tidak mampu membuang kelebihan cairan secara optimal.

Lantas, bagaimana cara minum teh yang lebih aman?

Pilih teh seduhan dengan gula secukupnya atau tanpa gula, hindari konsumsi berlebihan, dan jangan menganggap teh herbal sebagai obat untuk “membersihkan” ginjal. Produk herbal tertentu justru dapat mengandung mineral atau zat yang tidak sesuai bagi penderita penyakit ginjal.

Yang paling penting, penderita penyakit ginjal sebaiknya tidak menyamaratakan aturan makan dan minum. Pasien dengan penyakit ginjal tahap awal tentu bisa memiliki kebutuhan berbeda dengan pasien yang sudah menjalani dialisis atau mengalami kadar kalium tinggi.

Jadi, teh bisa saja tetap dikonsumsi oleh sebagian penderita penyakit ginjal, tetapi porsinya dan jenisnya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Jika dokter atau ahli gizi ginjal telah memberikan batasan cairan, kalium, fosfor, atau kafein, aturan tersebut sebaiknya menjadi acuan utama.

Informasi kesehatan lainnya dapat dibaca di JurnalLugas.Com.

(Lili)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Penyebab Ginjal Tidak Mampu Menyaring Darah dengan Baik, Kenali Faktor Pemicunya Sebelum Terlambat

Pos terkait