Obesitas Meningkatkan Risiko Penyakit Ginjal, Benarkah?

JurnalLugas.Com – Obesitas selama ini lebih sering dikaitkan dengan diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung hingga gangguan sendi. Namun, ada satu organ penting yang juga bisa ikut terdampak ketika berat badan terus berada di atas batas sehat, yakni ginjal.

Lantas, benarkah obesitas dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal?

Bacaan Lainnya

Jawabannya ya. Kelebihan berat badan dan obesitas diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan fungsi ginjal, termasuk penyakit ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD).

Hubungan tersebut tidak hanya terjadi secara tidak langsung melalui diabetes dan hipertensi, tetapi juga dapat melibatkan perubahan langsung pada cara ginjal bekerja.

Menurut National Kidney Foundation, obesitas merupakan salah satu faktor risiko penyakit ginjal kronis dan bahkan dapat mempercepat perkembangannya. Kondisi tersebut antara lain berkaitan dengan peradangan, kerja ginjal yang lebih berat, serta munculnya albumin dalam urine yang dapat menjadi tanda adanya kerusakan ginjal.

Mengapa Obesitas Bisa Membebani Ginjal?

Ginjal bekerja menyaring darah, membuang zat sisa metabolisme dan membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh. Ketika seseorang mengalami obesitas, kebutuhan metabolisme tubuh juga meningkat sehingga ginjal dapat dipaksa bekerja lebih keras.

Salah satu mekanismenya dikenal sebagai hiperfiltrasi, yaitu kondisi ketika ginjal meningkatkan aktivitas penyaringan. Dalam jangka panjang, beban kerja yang berlebihan tersebut dapat memberikan tekanan pada bagian penyaring ginjal atau glomerulus.

Masalahnya tidak berhenti pada beban kerja ginjal.

Obesitas juga berhubungan dengan proses peradangan dalam tubuh, gangguan metabolisme, resistensi insulin serta perubahan hormonal yang dapat memengaruhi tekanan darah dan fungsi pembuluh darah. Kombinasi berbagai faktor tersebut dapat memperbesar tekanan terhadap ginjal.

Dengan kata lain, lemak tubuh berlebih bukan sekadar persoalan penampilan atau berat badan, tetapi dapat menjadi bagian dari rangkaian masalah metabolik yang akhirnya membebani organ vital.

Baca Juga  Apakah Asam Urat Bisa Merusak Ginjal? Ini Hubungan Perlu Dipahami

Diabetes dan Tekanan Darah Tinggi Ikut Memperbesar Risiko

Hubungan obesitas dengan penyakit ginjal juga semakin kuat ketika seseorang mengalami diabetes atau tekanan darah tinggi.

Obesitas meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Sementara itu, diabetes merupakan salah satu penyebab penting kerusakan ginjal. Tekanan darah tinggi juga dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal sehingga kemampuan organ tersebut dalam menyaring darah secara bertahap dapat menurun.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut diabetes, hipertensi dan penyakit kardiovaskular sebagai sejumlah faktor penting yang berkaitan dengan penyakit ginjal kronis.

WHO juga menekankan bahwa menjaga berat badan sehat merupakan bagian dari langkah untuk menurunkan risiko penyakit ginjal.

Jadi, ketika obesitas disertai gula darah dan tekanan darah yang tidak terkendali, risiko terhadap ginjal menjadi semakin serius.

Bisa Terjadi Tanpa Gejala

Salah satu alasan penyakit ginjal perlu diwaspadai adalah karena kerusakannya dapat berlangsung diam-diam.

Pada tahap awal, seseorang bisa saja tidak merasakan keluhan berarti meskipun fungsi ginjal mulai mengalami perubahan. WHO mencatat penyakit ginjal sering tidak menimbulkan gejala sampai memasuki tahap yang lebih lanjut.

Karena itu, orang dengan obesitas, terutama yang juga memiliki diabetes atau hipertensi, sebaiknya tidak hanya berfokus pada angka timbangan.

Pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat membantu mendeteksi masalah lebih awal. Pemeriksaan darah untuk melihat kadar kreatinin dan memperkirakan fungsi penyaringan ginjal, serta pemeriksaan urine untuk mengetahui adanya albumin, merupakan bagian dari pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mendeteksi penyakit ginjal kronis.

Apakah Menurunkan Berat Badan Bisa Melindungi Ginjal?

Menjaga berat badan tetap sehat merupakan salah satu langkah penting untuk membantu melindungi ginjal. Penurunan berat badan yang dilakukan secara aman dapat membantu memperbaiki berbagai faktor yang berkaitan dengan risiko penyakit ginjal, termasuk tekanan darah dan gangguan metabolisme.

Namun, menurunkan berat badan bukan berarti melakukan diet ekstrem atau mengurangi makan secara berlebihan.

Baca Juga  Cara Menjaga Ginjal bagi Penderita Diabetes, Jangan Tunggu Gejala Muncul

Pola makan yang lebih seimbang, aktivitas fisik rutin, tidur cukup dan pengendalian konsumsi makanan tinggi gula, lemak serta garam merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.

WHO juga menempatkan aktivitas fisik dan pola makan sehat sebagai bagian dari pencegahan serta pengendalian obesitas.

Yang perlu dipahami, ukuran tubuh bukan satu-satunya penentu kondisi kesehatan seseorang. Indeks massa tubuh atau BMI memang digunakan sebagai salah satu ukuran obesitas, tetapi hasilnya tetap perlu dilihat bersama kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Jangan Tunggu Ginjal Bermasalah

Obesitas memang tidak otomatis berarti seseorang akan mengalami penyakit ginjal. Namun, bukti medis menunjukkan bahwa kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko dan dalam kondisi tertentu ikut mempercepat kerusakan fungsi ginjal.

Karena itu, menjaga berat badan sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai upaya mendapatkan bentuk tubuh ideal. Ada alasan yang jauh lebih penting di baliknya, yaitu menjaga organ tubuh tetap bekerja dengan baik dalam jangka panjang.

Ginjal yang bermasalah sering kali tidak memberikan peringatan sejak awal. Ketika gejala mulai terasa, kerusakan bisa saja sudah berlangsung cukup lama.

Maka, menjaga berat badan, mengontrol tekanan darah dan gula darah, aktif bergerak serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah sederhana yang tidak seharusnya diabaikan.

Obesitas memang dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal. Bukan semata karena berat badan yang bertambah, tetapi karena kelebihan lemak tubuh dapat memicu berbagai perubahan metabolik dan membuat ginjal bekerja lebih keras.

Informasi kesehatan dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau diagnosis dari tenaga medis.

Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com

(Wening)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait