JurnalLugas.Com – Bantuan kemanusiaan yang dibutuhkan masyarakat di Jalur Gaza masih menghadapi hambatan. Kantor informasi otoritas Gaza menyebut sebagian besar kebutuhan pangan belum dapat masuk ke wilayah tersebut.
Dalam pernyataannya pada Selasa, 8 September 2026, badan tersebut menyebut sekitar 65 persen pasokan makanan yang dibutuhkan warga Gaza belum diizinkan masuk.
Kondisi itu semakin berat karena lebih dari 90 persen penduduk Gaza disebut tidak memiliki kemampuan membeli makanan secara mandiri.
Sementara itu, otoritas Palestina mencatat lebih dari 95 persen masyarakat masih bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Situasi tersebut berlangsung meski kesepakatan penghentian perang antara Israel dan Hamas telah dicapai pada 9 Oktober 2025 melalui mediasi Mesir, Qatar, Amerika Serikat, dan Turki.
Kesepakatan yang kemudian diresmikan dalam KTT di Sharm El-Sheikh pada 13 Oktober 2025 itu mencakup gencatan senjata, pertukaran sandera dengan tahanan Palestina, peningkatan bantuan kemanusiaan, serta penarikan bertahap pasukan Israel dari Gaza.
Namun, pelaksanaannya masih menghadapi kebuntuan. Israel menuntut pelucutan senjata Hamas menjadi bagian awal sebelum penarikan pasukan dilanjutkan.
Sebaliknya, Hamas menginginkan Israel terlebih dahulu menghentikan serangan, menarik pasukan dari Gaza, serta memenuhi komitmen terkait masuknya bantuan kemanusiaan.
Perselisihan tersebut membuat sejumlah poin dalam kesepakatan belum sepenuhnya terlaksana. Di tengah kebuntuan itu, kebutuhan bantuan pangan dan kemanusiaan warga Gaza masih menjadi persoalan utama.
Baca berita lainnya hanya di JurnalLugas.Com.
(Handoko)






