JurnalLugas.Com — Kasus dugaan keracunan massal setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, belum menemukan titik akhir. Perkembangan terbaru justru menunjukkan adanya kondisi kesehatan korban yang semakin serius.
Salah satu korban, siswi berinisial FP (16), dilaporkan mengalami penurunan kondisi setelah sebelumnya sempat membaik. Ia kemudian mengalami kejang dan gangguan ingatan berat hingga tidak mengenali sejumlah kerabat maupun gurunya.
Ayah FP, Bang Purba, mengatakan pemeriksaan di RSUP H. Adam Malik Medan menemukan indikasi racun jamur yang berkaitan dengan gangguan pada saraf kepala anaknya.
“Dokter menyampaikan ada racun jamur pada saraf kepala anak saya,” ujar Bang Purba, Sabtu 12 September 2026.
Kasus ini bermula dari makanan MBG yang dibagikan pada 13 Agustus 2026. Menu tersebut terdiri dari nasi, sayuran kol dan wortel, serta gulai ikan.
Sebanyak 265 pelajar dari SMAN 1 Berastagi, SMA Swasta Bersama, dan SMK Swasta Bersama dilaporkan mengalami keluhan mulai dari mual hingga muntah.
Temuan awal Badan Gizi Nasional (BGN) kemudian menyoroti persoalan penyimpanan bahan makanan. Ikan yang digunakan disebut berada pada suhu ruangan selama lebih dari 12 jam dan tidak disimpan di freezer.
Namun, perkembangan kondisi sejumlah korban membuat persoalan tersebut menjadi lebih kompleks.
Memasuki September, beberapa korban dilaporkan mengalami gangguan kesehatan lain, termasuk keluhan pada ginjal dan jantung. FP bahkan harus menjalani perawatan di beberapa rumah sakit sebelum akhirnya mendapat penanganan di RSUP H. Adam Malik Medan.
Di sinilah persoalan utama kasus tersebut muncul. Dugaan keracunan makanan memang telah menjadi perhatian sejak awal, tetapi penyebab pasti gangguan kesehatan berkepanjangan pada para korban belum ditetapkan secara resmi.
Indikasi racun jamur yang disebut keluarga FP berdasarkan penjelasan tim medis juga belum disertai keterangan resmi mengenai jenis racun atau jamur yang dimaksud.
Karena itu, temuan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan bahwa jamur merupakan penyebab tunggal seluruh kasus.
Rapat dengar pendapat yang berlangsung hingga 7 September 2026 juga belum menghasilkan kesimpulan final. Sejumlah kemungkinan masih perlu ditelusuri, termasuk kemungkinan adanya lebih dari satu faktor yang menyebabkan korban mengalami komplikasi.
Langkah pemerintah melalui BGN sejauh ini berupa penghentian sementara operasional dapur penyedia, penyegelan lokasi, serta pencopotan Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berkaitan dengan layanan tersebut.
Langkah itu penting, tetapi kasus Berastagi kini membutuhkan lebih dari sekadar penghentian operasional dapur.
Yang paling mendesak adalah memastikan penyebab medis secara ilmiah dan terbuka, sekaligus memastikan seluruh korban mendapatkan pemantauan kesehatan hingga benar-benar pulih.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(Soefriyanto)






