JurnalLugas.Com – Harga emas dunia terkoreksi pada perdagangan Senin (12/10/2026), setelah sempat mencapai level tertinggi dalam sepekan. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan harga minyak menjadi faktor yang menekan pergerakan logam mulia tersebut.
Harga emas di pasar spot turun 0,55 persen menjadi USD4.171,65 per troy ons. Sebelumnya, emas sempat menyentuh posisi tertinggi sejak 2 Oktober 2026.
Pelemahan ini terjadi ketika pelaku pasar menunggu data inflasi AS yang berpotensi memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Data inflasi menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS. Perubahan ekspektasi suku bunga turut memengaruhi daya tarik emas, yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menilai penguatan dolar menjadi salah satu sumber tekanan terhadap harga emas.
Menurut Wyckoff, tekanan jual muncul ketika dolar AS bergerak di sekitar level tertinggi dalam satu setengah tahun terakhir.
Dolar yang menguat membuat emas berdenominasi mata uang AS relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Kondisi ini dapat membatasi permintaan dan menekan harga emas di pasar global.
Pergerakan emas selanjutnya akan menjadi perhatian investor, terutama menjelang rilis data inflasi AS yang dapat memengaruhi perkiraan kebijakan The Fed.
Baca berita ekonomi dan harga emas terbaru di JurnalLugas.Com.
(Endarto)






