JurnalLugas.Com – Hizbullah menegaskan tidak akan menghentikan perlawanan bersenjata selama pasukan Israel masih berada di wilayah Lebanon. Kelompok tersebut menyatakan akan terus menekan kekuatan militer Israel hingga seluruh pasukannya ditarik dari negara itu.
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Dewan Eksekutif Hizbullah, Ali Daamoush, dalam konferensi pers pada Selasa (13/10/2026). Ia menilai keberadaan pasukan Israel di sejumlah wilayah Lebanon tidak menjadi alasan bagi kelompoknya untuk menghentikan perlawanan.
“Tugas perjuangan berbeda dengan tugas pasukan reguler. Perjuangan bekerja untuk menguras pasukan pendudukan hingga mereka sepenuhnya diusir dari negara kami,” kata Daamoush.
Ia menyebut perlawanan bersenjata sebagai pilihan yang dianggap penting selama pendudukan masih berlangsung. Daamoush juga menolak anggapan bahwa kerusakan permukiman dan kehadiran militer Israel akan membuat Hizbullah menyerah.
“Pilihan untuk melakukan perlawanan merupakan kebutuhan nasional yang tidak dapat ditinggalkan selama pendudukan masih ada,” ujarnya.
Daamoush turut mengkritik respons masyarakat internasional terhadap kehancuran di Lebanon. Ia juga menyoroti langkah otoritas Lebanon yang dinilainya merugikan kelompok perlawanan.
Penarikan Pasukan Israel Jadi Pokok Perselisihan
Pernyataan Hizbullah muncul di tengah perbedaan sikap antara pemerintah Lebanon dan Israel mengenai pelaksanaan kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat.
Pemerintah Lebanon menginginkan seluruh pasukan Israel meninggalkan wilayahnya dan menegaskan bahwa senjata harus berada di bawah kendali tentara nasional.
Kerangka kesepakatan kedua negara juga mencakup pelucutan senjata Hizbullah, pengalihan kendali wilayah selatan kepada tentara Lebanon, serta penarikan pasukan Israel secara bertahap.
Namun, kedua pihak belum mencapai kesepahaman mengenai urutan pelaksanaannya. Beirut menghendaki penarikan penuh pasukan Israel, sementara Tel Aviv mengaitkan penarikan lanjutan dengan pelucutan senjata Hizbullah.
Perbedaan tersebut membuat masa depan pengaturan keamanan di Lebanon masih menjadi persoalan. Di satu sisi, pemerintah Lebanon mendorong penarikan pasukan Israel dan penguatan kendali tentara nasional.
Di sisi lain, Hizbullah menegaskan akan mempertahankan perlawanan selama keberadaan militer Israel di wilayah Lebanon belum berakhir.
Baca perkembangan konflik Timur Tengah lainnya di JurnalLugas.Com.
(Handoko)






