JurnalLugas.Com – Parlemen Iran menyetujui Mehrdad Akhlaqi Ketabchi sebagai menteri pertahanan baru pada Minggu, 18 Oktober 2026. Penunjukan ini berlangsung di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, termasuk peringatan Teheran mengenai kemungkinan serangan lanjutan.
Menurut laporan lembaga penyiaran negara Iran, IRIB, Akhlaqi memperoleh 237 suara dukungan dan 15 suara penolakan. Pemungutan suara digelar melalui konferensi video setelah anggota parlemen mendengarkan pandangan yang mendukung maupun menentang pencalonannya serta meninjau program kerja yang diajukan.
Akhlaqi menggantikan Aziz Nasirzadeh, yang dilaporkan tewas dalam serangan awal AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Setelah kematian Nasirzadeh, posisi menteri pertahanan dijalankan sementara oleh Majid Ebn al-Reza.
Iran Klaim Siap Hadapi Ancaman Bom AS
Pernyataan awal Akhlaqi setelah mendapat persetujuan parlemen langsung menyoroti kesiapan militer Iran menghadapi kemungkinan penggunaan bom GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB) oleh AS. Senjata tersebut dikenal dengan julukan Mother of All Bombs.
Akhlaqi mengatakan pemerintah Iran telah menyiapkan langkah untuk menghadapi kemungkinan serangan menggunakan senjata tersebut.
“Kami telah menyiapkan langkah yang diperlukan untuk menghadapi tindakan semacam itu dan tetap bekerja dengan penuh keyakinan,” kata Akhlaqi kepada wartawan.
Ia juga melontarkan peringatan kepada Presiden AS Donald Trump agar mempertimbangkan risiko yang mungkin dihadapi pasukan Amerika di kawasan tersebut.
Pernyataan itu mengisyaratkan bahwa Teheran ingin menunjukkan kesiapan memberikan perlawanan jika ancaman militer Washington benar-benar diwujudkan.
Namun, klaim mengenai kesiapan Iran dan alasan AS belum menggunakan bom tersebut merupakan pernyataan Akhlaqi yang belum dapat dipastikan secara independen dari informasi yang tersedia.
Ancaman Balasan Jika Serangan Terulang
Dalam pidatonya sebelum pemungutan suara, Akhlaqi memperingatkan AS dan Israel agar tidak kembali menyerang Iran. Ia menyatakan Teheran akan memberikan respons besar jika kedua negara tersebut melancarkan serangan baru.
“Jika AS dan Israel kembali melakukan kesalahan perhitungan, respons Iran akan mengejutkan dan luas,” ujarnya.
Akhlaqi juga memperingatkan bahwa Washington dan sekutunya harus menanggung konsekuensi regional maupun internasional apabila konflik kembali meningkat.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa ancaman serangan balasan menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan calon menteri pertahanan itu sejak awal masa jabatannya.
Akhlaqi turut mengungkapkan bahwa dirinya telah masuk dalam daftar pembunuhan pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh Iran selama sekitar 35 tahun.
Ia berjanji memperkuat apa yang disebut Teheran sebagai front perlawanan, jaringan kelompok dan kekuatan sekutu Iran di kawasan.
Fokus pada Industri Pertahanan dan Rudal
Selain menyampaikan peringatan militer, Akhlaqi memaparkan sejumlah prioritas untuk Kementerian Pertahanan Iran. Program tersebut mencakup perluasan produksi pertahanan di jaringan industri dalam negeri, peningkatan penelitian dan pengembangan teknologi, serta penyesuaian struktur kementerian terhadap ancaman keamanan yang dihadapi negara itu.
Akhlaqi bukan sosok baru dalam sektor pertahanan Iran. Ia merupakan pejabat senior yang telah lama berkarier di kementerian tersebut dan pernah memimpin Organisasi Industri Dirgantara Iran.
Rekam jejaknya juga berkaitan dengan program rudal Iran. Akhlaqi sebelumnya dikenai sanksi oleh AS atas dugaan keterlibatannya dalam kegiatan terkait program rudal negara tersebut.
Penunjukannya berlangsung ketika hubungan Iran dengan AS dan Israel masih dibayangi risiko konfrontasi militer.
Pernyataan keras Akhlaqi menunjukkan bahwa penguatan kemampuan pertahanan dan ancaman pembalasan akan menjadi bagian penting dari pesan pemerintah Iran kepada lawan-lawannya.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Handoko)






