JurnalLugas.Com – Pasar aset kripto memasuki pekan terakhir di bulan Mei 2024 dengan kondisi yang kurang menggembirakan, terpantau mayoritas aset kripto menetap di zona merah. Salah satu indikator utama, Bitcoin, menunjukkan pelemahan sebesar 1,16%, bergerak menuju level US$67.942 atau sekitar Rp1,09 miliar per koin. Sepanjang periode ini, Bitcoin diperdagangkan dalam rentang harga US$67.400 hingga US$69.500.
Menurut data dari CoinMarketCap pada Selasa, 28 Mei 2024, sepuluh aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar kompak mengalami penurunan. Cardano (ADA) mencatatkan penurunan paling tajam dengan melemah 1,91% dalam 24 jam terakhir dan turun 9,22% selama sepekan, bertengger di harga US$0,4559.
BNB Coin juga mengalami penurunan, berada di posisi kedua dengan pelemahan 1,21% dalam 24 jam terakhir, menjadi US$597,71, serta mengalami depresiasi 3,79% dalam sepekan.
Saat artikel ini ditulis, Bitcoin diperdagangkan pada level US$67.942, menunjukkan penurunan 1,16% dalam 24 jam terakhir. Kapitalisasi pasar Bitcoin pun menyusut ke kisaran US$1,33 triliun.
Panji Yudha, analis dari Ajaib Kripto, dalam riset terbarunya mengungkapkan bahwa meskipun Bitcoin tengah melemah, aset ini masih mencatatkan kenaikan sekitar 14% sejak awal Mei. “Bitcoin berpotensi menutup Mei dengan tren bullish untuk pertama kalinya dalam tiga tahun,” tulis Panji dalam riset yang dipublikasikan pada Selasa, 28 Mei 2024.
Secara teknikal, Panji menganalisis bahwa jika Bitcoin mampu bertahan di garis tren support pada level US$67.000, ada potensi untuk kembali menguat menuju US$69.000. Apabila berhasil melampaui level tersebut, Bitcoin dapat menguji level resistance potensial di US$73.000.
Lebih lanjut, Panji menyatakan bahwa pergerakan Bitcoin juga berpotensi dipengaruhi oleh beberapa data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini. Data yang dinanti termasuk Indeks Kepercayaan Konsumen yang akan diterbitkan pada Selasa malam, diikuti oleh laporan tahunan pertumbuhan PDB kuartal I-2024 yang dirilis pada Kamis, 30 Mei 2024. Laporan ini memberikan gambaran tentang kesehatan perekonomian AS dari kuartal sebelumnya.
Selain itu, perhatian juga tertuju pada rilis Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) pada 31 Mei. Indeks ini merupakan ukuran utama inflasi yang mempengaruhi kebijakan Federal Reserve. “Data ini sangat penting untuk diikuti oleh para investor aset kripto, karena berpotensi menyebabkan fluktuasi harga Bitcoin,” jelas Panji.
Dengan demikian, pekan terakhir Mei 2024 menjadi periode yang krusial bagi pasar aset kripto, terutama dalam menanti rilis data ekonomi AS yang bisa memberikan dampak signifikan pada pergerakan harga Bitcoin dan aset kripto lainnya.






