JurnalLugas.Com – Pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka akan resmi memimpin Indonesia pada Oktober mendatang. Namun, mereka akan dihadapkan pada tantangan besar selama masa pemerintahan mereka, yakni utang jatuh tempo yang cukup signifikan.
Beban Utang yang Mengintai
Utang pemerintah yang akan jatuh tempo pada periode 2025-2029 menjadi salah satu tantangan utama bagi duet Prabowo-Gibran. Menurut perhitungan Kementerian Keuangan per 30 April 2024, utang jatuh tempo pada tahun 2025 diperkirakan mencapai Rp 800,33 triliun. Angka ini terus meningkat pada 2026 dengan total Rp 803,19 triliun, sedikit menurun menjadi Rp 802,61 triliun pada 2027, dan kembali menurun pada 2028 dengan jumlah Rp 719,81 triliun.
Pada tahun terakhir pemerintahan Prabowo-Gibran, yakni 2029, utang jatuh tempo diproyeksikan sebesar Rp 622,3 triliun. Secara keseluruhan, total utang yang harus dibayar selama periode ini mencapai Rp 3.748,24 triliun.
Dampak Bunga Utang yang Meningkat
Presiden Joko Widodo pernah memberikan peringatan mengenai dampak bunga utang yang tinggi terhadap beban fiskal. Menurutnya, kenaikan suku bunga sedikit saja dapat meningkatkan beban utang secara signifikan. Hal ini disampaikan dalam acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan 2024 bulan lalu.
Putera Satria Sambijantoro, Ekonom Bahana Sekuritas, juga mengungkapkan bahwa risiko utang mungkin sudah terlihat sejak tahun ini. Hingga akhir April, pemerintah baru merealisasikan 13,6% dari pembiayaan utang dalam APBN. Pembiayaan yang menumpuk di akhir tahun, terutama melalui penerbitan obligasi, dapat menambah tekanan terhadap fiskal pada semester kedua jika suku bunga kembali naik.
Tren Suku Bunga Global
Tren suku bunga global juga memberikan tantangan tambahan. Di Amerika Serikat, pasar masih tidak pasti mengenai arah suku bunga acuan. Pejabat Federal Reserve menyatakan bahwa belum saatnya untuk menurunkan suku bunga acuan, yang berarti suku bunga kemungkinan tetap tinggi untuk waktu yang lama. Gubernur The Fed Dallas, Lorie Logan, menegaskan bahwa pengetatan moneter belum sepenuhnya berhasil mengerem laju ekspansi ekonomi dan inflasi yang masih tinggi.
Logan menyatakan bahwa terlalu dini untuk berbicara mengenai penurunan suku bunga dan menekankan perlunya fleksibilitas dalam menghadapi ketidakpastian ini, seraya terus memantau perkembangan data ekonomi.
Dengan beban utang yang besar dan tren suku bunga yang tinggi, pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka akan menghadapi tantangan fiskal yang signifikan. Strategi pengelolaan utang dan kebijakan fiskal yang bijak akan sangat krusial untuk memastikan stabilitas ekonomi Indonesia selama lima tahun mendatang.






