JurnalLugas.Com – Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Suleman Tanjung, meyakini bahwa aksi Demo yang berlangsung di depan Kantor PBNU pada Jumat (2/8) diprakarsai oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
“Kami memiliki banyak bukti yang menunjukkan bahwa massa ini memang digerakkan untuk menyerang PBNU,” ujar Suleman di Jakarta, Minggu, 4 Agustus 2024.
Suleman menjelaskan bahwa salah satu bukti yang mereka peroleh adalah massa yang berunjuk rasa datang dari arah Jalan Raden Saleh, atau tepatnya dari Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKB. Selain itu, massa yang hadir dipimpin oleh seseorang bernama Muhammad Solihin.
Dari hasil penelusuran PBNU, Muhammad Solihin diketahui merupakan pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKB Jawa Barat (Jabar) dan mantan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Kabupaten Indramayu.
“PCNU Indramayu juga telah mengonfirmasi bahwa massa ini digerakkan oleh beberapa orang PKB dari Indramayu,” tambahnya.
Dalam orasinya, massa yang mengatasnamakan Aliansi Santri Gus Dur Menggugat, menuntut Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf untuk mundur dari jabatannya.
Menurut Koordinator Aliansi Santri Gus Dur Menggugat, Muhammad Solihin, “Gus Yahya dalam hal ini sebagai ketua umum ketika Muktamar Lampung (2021) yang mengonsolidasi ideologi perjuangan Gus Dur untuk memperbaiki Nahdlatul Ulama, namun faktanya hari ini justru kontraproduktif, bahkan cenderung melanggar hasil-hasil muktamar.”
Solihin juga menuduh Gus Yahya terlibat dalam politik praktis. “Dan yang sangat menyakitkan adalah mencampuri urusan orang lain, rumah tangga orang lain, yang katanya tidak berpolitik praktis, tetapi malah justru hari ini kami dipertontonkan dengan keputusan PBNU membentuk tim investigasi. Itu adalah offside, pelanggaran secara aktual, harus kami ingatkan,” ujarnya.
Selain menuntut Gus Yahya mundur dari jabatannya di PBNU, massa aksi juga meminta Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) untuk mundur. “Tuntutannya ketika melanggar muktamar, siapa pun ketua umum yang mengawal, menakhodai ini harus mundur dan juga bapak sekjen,” pungkas Solihin.






