JurnalLugas.Com – Raja Malaysia, Sultan Ibrahim Iskandar, sedang mencari investor dari China untuk mendanai proyek kereta cepat yang menghubungkan Malaysia dan Singapura, dengan total investasi yang diperkirakan mencapai miliaran dolar. Menurut sumber yang meminta anonimitas, Sultan Ibrahim menargetkan perusahaan milik negara China sebagai mitra potensial.
Kunjungan resmi Presiden Xi Jinping selama empat hari yang dimulai pada 19 September 2024, bertujuan untuk memperkuat hubungan strategis antara kedua negara. Dalam delegasi ini, Sultan Ibrahim membawa perwakilan dari YTL Corp, salah satu dari tiga konsorsium yang terpilih untuk proyek ini. CEO YTL, Francis Yeoh, menunjukkan minat perusahaan dalam proyek tersebut, meskipun belum ada konfirmasi resmi tentang partisipasinya dalam proses penawaran.
Sultan Ibrahim dikenal sebagai pendukung pengembangan jalur kereta api, terutama setelah proyek ini dihidupkan kembali oleh pemerintahan Perdana Menteri Anwar Ibrahim.
Sultan mengungkapkan bahwa proyek ini direncanakan tanpa menggunakan dana pajak, dan konsorsium swasta akan bertanggung jawab untuk pendanaan dan pengoperasian selama 30 tahun sebelum diserahkan kembali kepada pemerintah Malaysia.
Hingga saat ini, Istana Nasional Malaysia, Kementerian Luar Negeri China, dan YTL Corp belum memberikan tanggapan terkait permintaan komentar. Kementerian Perhubungan Malaysia juga belum memberikan informasi lebih lanjut. Meskipun demikian, Kementerian Luar Negeri Malaysia menegaskan bahwa kunjungan Presiden Xi mencerminkan hubungan kuat antara Malaysia dan China.
Sultan Ibrahim, yang mulai menjabat sebagai Raja Malaysia pada Januari lalu, berada dalam sistem monarki bergilir, di mana sembilan penguasa turun-temurun bergiliran menjabat. Meskipun perannya sebagian besar seremonial, penguasa kerajaan semakin berperan dalam menentukan kekuasaan politik negara.
Menteri Perhubungan Malaysia, Anthony Loke, turut hadir dalam delegasi. Ia menyatakan bahwa kabinet akan memutuskan kelayakan proyek kereta cepat ini pada akhir tahun. Tercatat, tujuh kelompok lokal dan internasional, yang terdiri dari 31 perusahaan, telah mengajukan proposal untuk proyek ini. Proses seleksi telah mengerucut menjadi tiga konsorsium, termasuk YTL, Berjaya Land Bhd. milik taipan Vincent Tan, dan konsorsium yang dipimpin oleh China Railway Construction Corp.
Dengan adanya dukungan kuat dari pemerintah dan calon investor, proyek kereta cepat ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat infrastruktur transportasi di kawasan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Malaysia dan Singapura.






