JurnalLugas.Com – Perdana Menteri Lebanon, Najib Mikati, menegaskan pentingnya penyelesaian konflik antara Lebanon dan Israel melalui jalur diplomasi. Ia menyatakan bahwa perang terbuka hanya akan membawa kerugian bagi semua pihak yang terlibat. Pernyataan tersebut disampaikan Mikati dalam sebuah diskusi daring yang diadakan oleh lembaga American Task Force on Lebanon, pada Rabu, 2 Oktober 2024.
Mikati menekankan bahwa pemerintah Lebanon terus berupaya mencari solusi diplomatik yang dapat memberikan keuntungan bagi semua pihak. “Kami sedang berusaha mencapai solusi diplomatik yang bermanfaat untuk semua pihak,” ujar Mikati dalam diskusi tersebut.
Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa setiap upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan ini harus mencakup implementasi penuh dari Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 1701. Resolusi yang disepakati pada tahun 2006 ini bertujuan untuk mengakhiri perang yang pernah terjadi di Lebanon. Mikati menegaskan komitmen Lebanon terhadap resolusi ini dan mendesak semua pihak yang terlibat agar menghormati dan menerapkannya.
“Resolusi DK PBB No. 1701 harus diterapkan dan dihormati oleh semua pihak. Sebagai perwakilan Lebanon, kami berkomitmen untuk mematuhinya,” tegas Mikati.
Lebih lanjut, Perdana Menteri Lebanon juga mengkritik Israel yang menolak usulan gencatan senjata selama 21 hari. Ia menyebut penolakan ini sebagai bukti bahwa Israel tidak berniat untuk menghentikan konflik, melainkan justru ingin memperpanjang ketegangan dan peperangan di kawasan.
“Kenapa Israel menolak gencatan senjata hari ini? Jawabannya jelas, karena mereka menginginkan perang,” ungkap Mikati.
Tensi di perbatasan antara Israel dan Lebanon terus meningkat seiring dengan saling serangnya kedua belah pihak, terutama antara pasukan Israel dan kelompok Syiah Lebanon, Hizbullah. Serangan udara dan tembakan rudal dilaporkan terus berlangsung, memperparah situasi keamanan di wilayah tersebut.
Konflik semakin memanas setelah tentara Israel dilaporkan memasuki wilayah Lebanon dan terlibat dalam bentrokan langsung dengan Hizbullah pada hari Rabu. Perkembangan ini menambah ketegangan dan meningkatkan risiko eskalasi militer yang lebih besar di kawasan tersebut.
Mikati tetap menegaskan bahwa solusi diplomatik adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan konflik, menghindari korban jiwa, dan menjaga stabilitas di kawasan.






